Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LEMBATA – Keadaan topografi wilayahnya yang berbukit serta berkapur di Desa Lewolein, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat 114 Kepala Keluarga (KK) atau 480 jiwa warga warganya kesulitan mendapatkan air bersih.

Krisis air bersih di desa ini sudah menjadi hal yang biasa terjadi, apalagi di musim kemarau. Meskipun warga mendapatkan air, mereka harus mengendapkan air tersebut terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memasak. Hal ini karena airnya mengandung zat kapur.

Air di Desa Lewolein menjadi barang yang sangat berharga. Sumber air di desa tersebut hanya terdapat di tiga titik, dua merupakan sumur timba dan satu dari mata air.

Keterbatasan ekonomi membuat warga Lewolein tidak mampu untuk membuat sumur bor serta membeli air bersih. Sumur bor sangat dibutuhkan masyarakat Desa Lewolein untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian mereka dan kebutuhan MCK.   

Hal tersebut diungkapkan Arsyad Sabong (40), warga Desa Lewolein yang juga menjadi tim relawan ACT. Menurutnya, dua sumur dan satu sumber mata air bersih tidaklah memadai untuk seluruh warga desa, apalagi kalau musim kemarau datang. Sumber air dan air sumur pun kering.       

“Kami kekurangan air bersih. Di desa kami ini cuma ada dua sumur dan satu mata air dari gunung. Air sumur tersebut debetnya sangat kurang. Apalagi kalau kalau musim kemarau tiba, airnya kering. Kalau seluruh masyarakat desa mengambil air, maka air tersebut pun habis,” keluhnya.

Karena keterbatasan air, banyak warga melakukan BAB di pantai. “Ya, warga Lewolein kalau buang hajat selalu di laut, karena memang warga belum memiliki MCK sendiri. Kalau kami mau buang hajat, kami bawa air seember ke laut, itu juga kalau airnya lagi ada. Kalau airnya surut terpaksa kami harus membersihkan diri dengan air laut,” terangnya.                      

Dengan kondisi tersebut, Tim Global Wakaf-ACT pun tak tinggal diam. Pekan kedua April lalu, Global Wakaf membangun fasilitas sanitasi berupa MCK dengan tiga pintu. MCK ini dilengkapi sumur bor, tempat mencuci baju dan wudu, sekaligus penampung air bersih. 

Menurut Dede Abdulrochman selaku Koordinator Pembangunan Wakaf Sumur, pembangunan wakaf sumur ini merupakan hasil kerja sama dengan para wakif dari Bukalapak.com.

“Kami bangun sumur bor dan fasilitas sanitasi yang memang sangat dibutuhkan warga Desa Lewolein. Untuk pembangunan kali ini kami bermitra dengan para donatur dari Bukalapak.com,” ujar.  

Wakaf sumur ini dibangun di samping masjid Jamu Darujjama’ah, dengan durasi waktu 10 hari  lamanya (8 – 19 April 2018). Meskipun pembangunan wakaf sumur ini dibangun di samping masjid, penggunanya tidak terbatas pada masyarakat Muslim saja. Seluruh masyarakat desa bisa menikmati dan menggunakan fasilitas MCK tersebut. 

Kini, 114 Kepala Keluarga (KK) atau 480 jiwa warga Desa Lewolein pun tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih dan tak perlu lagi buang hajat ke laut.

Dede mengungkapkan proses pembangunan berlangsung lancar. Hal tersebut terjadi, karena respon masyarakat yang begitu bagus. Masyarakat desa tidak berdiam diri, namun turut berpartisipasi membantu proses pembangunan. Karena memang menurut Dede, pembangunan sanitasi air bersih ini menjadi impian masyarakat desa.

“Selama ini mereka sangat kurang percaya diri kalau mau menerima tamu, karena tak mempunyai MCK sendiri,“ imbuhnya. Dede menambahkan timnya berencana akan menggelar program wakaf sumur di wilayah lainnya tidak hanya di Desa Lewolein saja. Hal itu dilakukan untuk membantu masyarakat di Kabupaten Lembata yang mengalami krisis air.

Arsyad Sabong tak bisa menutup rasa senangnya, ia tampak bahagia ketika proses pembangunan wakaf sumur di desanya telah selesai dan sudah bisa mengalirkan air bersih serta MCK nya sudah bisa digunakan.    

“Senang sekali kami telah dibantu Tim Global Wakaf-ACT, karena memang masyarakat sangat kesulitan air bersih,” tuturnya.      

Pembangunan wakaf sumur atau sanitasi air bersih ini merupakan bagian dari proyek besar Pembangunan Sekolah Integrated Community Center (ICC) ACT atau Kompleks Pendidikan Terpadu. Nantinya, kompleks tersebut akan meliputi pembangunan fasilitas lainnya serta pemberdayaan masyarakat desa.   

“Kompleks pendidikan terpadu ini nantinya akan meliputi asrama putra dan putri, ruang kelas Madrasah Aliyah, ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah, dan ruang guru dan perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah. Lalu juga ada ruang kelas Madrasah Aliyah, ruang guru dan perpustakaan Madrasah Aliyah, masjid beserta tempat wudu terpisah, sanitasi air bersih, rumah ustaz atau guru, dan klinik,” pungkas Dede Abdulrochman. []