Call Center
+62 21 2940 6565

Purwadi Nugroho  

Tim Komunikasi Kreatif dan Strategis ACT

 

Matahari masih belum menampakkan sinar jingganya saat puluhan orang sudah hiruk-pikuk menyambutnya di sudut desa di Blora, Jawa Tengah. Usai Subuh, para kru langsung terjun ke pinggiran hamparan sawah. Udara sejuk dan kicau burung khas pedesaan menemani mereka menyiapkan segala peralatan dan kebutuhan pengambilan gambar iklan TV Commercial (TVC) Desa Wakaf dari Global Wakaf-ACT. 

Iklan Desa Wakaf mengangkat kondisi riil salah satu portofolio wakaf, bukan rekayasa kamera. Konsep iklan Desa Wakaf mengusung inspirasi keikhlasan para wakif, yakni hamba-hamba Allah yang tak ingin disebut namanya (di dunia) ketika berwakaf secara istikamah. Cukuplah hanya dia, nazir, dan Allah Ta’ala saja yang menyaksikan ibadah wakafnya. Ini jamak dijumpai di berbagai wilayah sebaran program Global Wakaf-ACT di penjuru Nusantara.

“Tantangannya, membuat video wakaf yang tak hanya inspiring, tapi dapat menyampaikan pesan bahwa wakaf tidak lagi eksklusif. Ia hangat, menyapa semua orang, dan harus bisa menggambarkan kebahagiaan (dari wakaf) terbangun di tengah-tengah umat. Kami bersyukur, ketika menceritakan ini ke sahabat kami Kenny Benedict yang juga seorang mualaf progresif. Ia sangat ingin mewakafkan apa yang dia bisa berikan (karya terbaik). Ini juga menjadi virus kebaikan yang menjalar ke rekan-rekan teknis produksi lainya,”  jelas Nurman Priatna, Direktur Komunikasi Kreatif ACT.

Pemilihan desa di Blora melewati proses diskusi antara tim Global Wakaf dengan sutradara dan tim produksi. Sebelumnya, Bogor dan Tasikmalaya sempat dijadikan kandidat lokasi pengambilan gambar. Blora dipilih karena merupakan etalase Desa Wakaf yang lebih komplit. 

Di Blora banyak terdapat aset portofolio program wakaf yang selama ini dikelola oleh Global Wakaf selaku nazir wakaf. Aset wakaf tersebut di antaranya Lumbung Ternak Masyarakat, Lumbung Pangan Masyarakat, sumur pertanian, sumur masyarakat, perahu nelayan, huler, pengering gabah, gudang beras, armada truk, dan lain-lain. 

Berbagai program wakaf tersebut pertama kali diaplikasikan di Desa Jipang, Desa Gadon, Desa Sambongrejo. Mayoritas desa agraris menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan segala produk turunanya. Namun, dengan kendala yang dihadapi selama ini, hasilnya belum cukup optimal hadirkan perbaikan kesejahteraan warga. 

Alhamdulillah, setelah dimulainya program Desa Wakaf, berbagai elemen masyarakat desa terlibat dan mendukung penuh. Mereka kini mulai merasakan semangat perubahan dan perbaikan kesejahteraan.

 

Desa Wakaf turut mengantarkan partisipasi aktif para warga, petani, ulama, dan pemerintah desa untuk bersama-sama mbangun deso. Benih-benih semangat Desa Wakaf inilah yang ingin disemai ke berbagai desa lainnya di pelosok Nusantara. 

Semua ambil peran

Hampir semua figuran yang terlibat merupakan warga desa (maukuf ‘alaih) asli Blora. Aktivitas sehari-hari mereka sebagian besar berada di sawah, di sungai, dan di kandang. Namun hari itu, mereka siap bergaya dan beradu akting di depan kamera. 

Ada yang masih kanak-kanak, ada juga kakek dan nenek yang sudah lanjut usia. Bisa dibayangkan betapa antusiasnya mereka dan warga desa umumnya. Sontak saja, dengan cepat area shooting menjadi pusat keramaian yang membuat macet jalanan desa. Wajar saja, ini adalah kali pertama mereka menyaksikan langsung proses shooting, yang selama ini hanya mereka lihat dari layar kaca.

“Alhamdulillah. Saya ikut berperan menjadi warga yang mengobrol sambil minum kopi di warung pinggir sawah. Tapi adegannya diulang-ulang yah Mas, sedikit capek. Tapi senang sekali saya juga ikut membantu mengumpulkan bapak-bapak untuk figuran shooting. Hehe…,” ujar Suharto (49), petani Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) Desa Jipang sambil tertawa.

 

Pengambilan gambar iklan Desa Wakaf ini digelar selama dua hari. Hari pertama kami shooting di huler dan gudang beras di pinggiran desa. Hamparan sawah dan peternakan mendominasi visual yang tertangkap kamera.

Pengambilan gambar pertama memang difokuskan pada keindahan lanskap topografi pedesaan yang menawan. Hamparan hijau persawahan masih berselimut kabut di saat fajar.

Lelah dan kantuk sudah pasti menghampiri, tapi itu tidak terlihat pada awak kru perlengkapan, figuran, apalagi sang sutradara. Padahal, mereka bangun lebih awal menyiapkan perlengkapan dan kebutuhan segala rupa dari sebelum fajar. Tak lupa hangatnya kopi dan teh menemani sambil diiringi alunan suara hewan-hewan malam khas desa. 

Hari kedua pengambilan gambar difokuskan pada kisah hikmah perjuangan para nelayan sungai Bengawan Solo yang menjadi penerima manfaat perahu Desa Wakaf. Alhamdulillah, mereka menyambutnya dengan sangat antusias.

 

Aliran sungai yang masyhur itu membelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sungai tersebut menjadi ladang ekonomi yang kaya akan sumber ikan. Jendil, jenis ikan lokal yang konon hanya ada di sana, menemani nelayan sungai beradu bakat di depan kamera. 

Yang spesial di hari kedua, ada talenta tambahan yang ikut menyukseskan iklan Desa Wakaf ini. Dia adalah si hitam manis yang telah melegenda. Pada samping badannya tertera label Berliner Maschinenbau NR 9409. Ya, dia sebuah lokomotif uap produksi tahun 1928.

Dahulu, lokomotif ini mengangkut kayu, dan masih bertahan hingga zaman milenial. Kereta uap tersebut berjalan di samping peternak desa yang sedang menggembalakan domba Lumbung Ternak Masyarakat. Asapnya yang mengepul ke atas menambah indah suasana pagi cerah penuh hangat.

 

Pengambilan gambar iklan Desa Wakaf  menyisakan cerita tersendiri bagi sang sutradara. Hampir dua puluhan tahun bergelut di dunia periklanan, baru kali itu ia merasakan sensasi yang tak biasa. 

“Secara komprehensif, saya tadinya tidak dapat memahaminya (Desa Wakaf) sampai saya datang ke Blora dan Cepu. Lalu saya melihat dengan mata kepala saya bagaimana wakaf telah mengubah kehidupan para warga desa di Cepu. Sungguh, saya sangat terkejut ketika pertama kali datang kemari dan melihat bagaimana Global Wakaf-ACT sangat disambut baik oleh warga,” ungkap Kenny Benedict, mualaf yang terus merawat semangatnya dalam berhijrah ini.

Sementara itu, Produser TVC Desa Wakaf Chaez, mengaku mendapat banyak kemudahan ketika proses shooting berlangsung. Pemilihan lokasi hingga pencarian pemain figuran tidak mengalami kendala yang berarti. 

Satu hal yang membuat ia terkesan, semua ingin terlibat dalam proses pembuatan TVC ini. “Kru kami bertambah, dari yang tadinya hanya 25 orang, menjadi 48 orang. Semua sukarela dan tidak mau dibayar, termasuk Pak Sutradara (Kenny Benedict). Padahal lokasi ada di Jawa Timur. Mereka ingin bersedekah bukan hanya dengan uang, tapi bersedekah karya dan jasa (terbaik),” ungkap Chaez.  

 

Lantunan azan Magrib menutup rangkaian ikhtiar demi mensyiarkan Desa Wakaf. Desa Jipang menjadi desa generasi awal yang insya Allah menjadi episentrum ekspansi desa wakaf untuk terus berkembang. 

“Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Alhamdulillah, mungkin karena yang kita lakukan adalah pekerjaan mulia. Menurut saya, ini adalah berkah dari Allah bahwa semuanya berjalan dengan sangat lancar,” jelas Mas Kenny Benedict, sutradara kelahiran Singapura.

Qadarullah, Desa Jipang sendiri adalah salah satu desa sangat  kaya akan nilai sejarah juang yang selalu terngiang. Di sinilah tempat sebuah kerajaan kokoh berdiri, Kadipaten Jipang Panolan (Islam) dengan sejuta kisah sang ksatria Adipati Arya Penangsang. Desa Jipang menjadi nafas Desa Wakaf dan Desa Juang. Ruh juang yang hidup membudaya berbaur dengan cita-cita hebat. Kini, semakin banyak yang ingin terlibat, menerjemahkan semua syukur, menuju maslahat demi membangun kehidupan umat. []