Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, GUNUNGKIDUL - Hidup di negara tropis tidak berarti bebas dari permasalahan kekeringan air. Kita bisa melihat sekilas tentang kekeringan tahunan di beberapa wilayah di Indonesia, bahkan di Pulau Jawa sekalipun. Salah satunya adalah Kabupaten Gunungkidul. Daerah yang berada di bawah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta ini, hampir setiap tahun mengalami kekeringan. Utamanya ketika memasuki musim kemarau. 

Mengapa demikian? Secara geografis, Kabupaten Gunungkidul termasuk daerah dengan topografi kawasan perbukitan karst. Karst merupakan wilayah dengan karakteristik bebatuan kapur dengan porositas yang tinggi. Apabila karst terkena air hujan,air tersebut akan terlarut ke dalam tanah dan tidak tertahan di permukaan tanah. 

Salah satu wilayah yang sering mengalami kekeringan tahunan adalah Dusun Dadap, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Letak Dusun Dadap jauh dari pusat kota. Mayoritas mata pencaharian masyarakat di sana adalah petani dan peternak.

 

Ketika musim kemarau tiba, biasanya masyarakat mengandalkan belik (mata air sungai) yang jauhnya dua kilometer dari pemukiman. Air yang didapatkan dari belik digunakan untuk keperluan keluarga dan ternak. Namun, itupun tidak setiap hari tercukupi mengingat kapasitas belik yang tidak besar. 

Yayasan Global Wakaf - Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY mencoba untuk mengurai permasalahan tahunan tersebut. Romadaniarsih selaku Koordinator Program Global Wakaf - ACT mengatakan, pihaknya telah membangun sumur yang ditopang dari dana wakaf untuk mengatasi masalah kekeringan di Dusun Dadap. 

Pembangunan sumur wakaf itu telah dimulai sejak 3 Mei 2018, dan kini manfaatnya sudah bisa dirasakan warga. Sumur yang dibangun merupakan bagian dari program Wakaf Sumur, yakni program pencarian sumber mata air dan pembangunan sumur di wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan air bersih.

 

“Harapannya, dengan sumur wakaf ini,  tidak ada lagi masyarakat yang kekurangan air bersih ke depannya, walaupun mereka hidup di wilayah yang sulit air,” tegas Romadaniarsih, Selasa (22/5). 

Sumur wakaf di Dusun Dadap, Gunungkidul merupakan sumur ke sembilan yang dibangun dari dana wakaf. Sebelumnya, sejumlah sumur wakaf juga telah dibangun telah dibangun di tujuh titik di Gunungkidul dan satu titik di Yogyakarta. 

Subandi selaku peternak Dusun Dadap mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan sumur dari para wakif yang berwakaf di Global Wakaf.

 

“Terima kasih kepada Bukalapak dan Global Wakaf-ACT. Alhamdulillah, saat ini saat ini kondisi kelompok peternak Lembu Mulyo airnya tercukupi. Kelompok ternak kami tidak kesusahan untuk ambil air. Kami senang sekali karena (sumur wakaf) ini sudah meringankan beban masyarakat. Semoga kebermanfaatan ini bisa berlanjut ke anak cucu kita,” ungkap Subandi. 

Memang, selain untuk keperluan ternak, pemanfaatan sumur wakaf di Dusun Dadap, Gunungkidul, ini juga untuk beberapa fasilitas publik. Misalnya saja musala, balai desa, sekolah, dan keperluan pribadi warga setempat.    

Hingga kini, program Wakaf Sumur telah berjalan di 17 provinsi di seluruh Indonesia. Global Wakaf DIY berkomitmen untuk terus membangun dua sampai empat sumur wakaf setiap bulan di wilayah Yogyakarta. Semoga dengan adanya Wakaf Sumur, permasalahan kekeringan dan ketersediaan air bersih di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dapat teratasi. []