Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, YOGYAKARTA - Ramadan telah melewati sepertiga waktunya. Tinggal menyisakan 10 hari terakhir, Ramadan menjadi momentum yang tak bisa dilepaskan dari ikhtiar memaksimalkan ibadah. Ramainya masjid makin terasa ketika sore datang. Berburu ibadah sembari berburu momen berbuka puasa, seperti yang dirasakan di hampir seluruh masjid di Kota Yogyakarta.   

Yogyakarta yang ramai kala Ramadan, menjadi hal biasa. Sejenak menjauh dari Indonesia, apakah ramainya Ramadan yang serupa terjadi di Tanah Palestina?

Sadarkah kita, bahwa hingga hari ke-20 Ramadan ini selepas berbuka puasa di Gaza, yang ada hanya gelap gulita? Saudara-saudara di Palestina terpaksa memaksimalkan masjid untuk beribadah dalam gelap gulita.  

Listrik yang menyala hanya empat sampai enam jam sehari, blokade siang dan malam, hingga sulitnya memenuhi urusan primer seperti pangan dan sandang, begitulah sehari-hari di Gaza berlangsung. Faktanya, kini hampir seluruh warga Gaza menggantungkan hidupnya hanya pada bantuan kemanusiaan dari negara lain, termasuk dari Indonesia.

Rangkaian cerita inilah yang dituturkan secara apik namun pilu oleh Syekh Muhammaf Atallah, ulama besar keturunan Palestina yang didatangkan langsung oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Alhamdulillah pada Ramadan 1439H, ACT DIY berhasil membawa Syekh Muhammad Atallah, meluaskan syiarnya sampai seantero Yogyakarta. Syekh Atallah keturunan Palestina yang pernah merasakan betapa sulitnya hidup di lingkungan Al-Aqsa. Beliau hadir di sini untuk menemani jamaah dalam syahdunya bulan suci Ramadan,” ucap Zainul Muttaqin, koordinator Roadshow Syekh Palestina untuk ACT DIY.

Sudah sejak awal Ramadan lalu, kedatangan Syekh Muhammad Atallah di Yogyakarta bertujuan untuk mengetuk pintu-pintu kepedulian. Bercerita tentang Palestina, mengajak masyarakat Jogja untuk lebih peduli atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Palestina sejak satu dekade terakhir.

Tantangan Bercerita tentang Palestina

Meski nampak mudah untuk membagi cerita, kenyataannya menghadirkan Syekh dari Palestina untuk mengisi taklim Ramadan di Yogyakarta bukanlah hal yang mudah. Sebelumnya saat jelang Ramadan kemarin, ACT DIY berhasil mendapat kesediaan Syekh Uday Akhras dari Gaza untuk singgah di Jogja.

Akan tetapi, detik-detik terakhir, tim ACT DIY mendapat kabar bahwa Syekh Uday Akhras tak dapat datang ke Indonesia karena mendapat larangan sepihak dari pemerintah Israel untuk keluar dari Gaza.

Pencarian penutur asli tentang Palestina pun berlanjut, perasaan khawatir meliputi seluruh tim ACT DIY. Pasalnya ketika itu bulan Ramadan sudah memasuki H-1, serta jadwal perjalanan Syekh Palestina di masjid-masjid Yogyakarta telah tercatat rapi.

Kabar berikutnya datang dari Negeri Turki, bahwa ada seorang syekh keturunan Palestina yang tinggal di Turki bersedia untuk mengisi Ramadan di Indonesia. Qodarullah di hari yang sama, rentetan kejadian buruk terjadi. Teror bom di Surabaya meledak sehingga Pemerintah Turki mengeluarkan travel warning, melarang Syekh beridentitas Turki dan Palestina itu datang ke Indonesia. Tiket sang Syekh hangus tak jadi digunakan.

Beranjak ke hari pertama puasa, belum ada titik terang siapa sosok Syekh dari Palestina yang akan mengisi hari-hari Ramadan di Yogyakarta. Hingga akhirnya kecemasan itu berbuah harapan.

Kabar datang dari Jordania menyampaikan bahwa Syekh Muhammad Atallah, Masyayikh (guru besar) keturunan Palestina yang menetap di Jordania, bersedia untuk hadir ke Indonesia, bersiap bertandang ke Yogyakarta.

Sepanjang Ramadan berlangsung, cerita perjalanan Syekh Atallah di Yogyakarta dijadwalkan akan mengisi 63 titik di masjid-masjid, baik masjid di kota seperti masjid kampus hingga masjid di pelosok Kabupaten Gunungkidul.

“Alhamdulillah untuk sampai hari Senin (04/06), sudah 49 masjid terlampaui, tinggal 14 lagi dan walaupun begitu padatnya jadwal, Alhamdulillah Syekh Muhammad Atallah dalam keadaan sehat” ujar Zainul.

Usai bercerita tentang Palestina, tanah kelahiran Syekh Atallah dan ribuan keluarga di Gaza yang tak tahu lagi bagaimana nasibnya, tangis jamaah pun pecah. Zainul mengatakan, di ujung cerita tiap-tiap masjid, Syekh asal Palestina ini biasanya akan menutupnya dengan penggalangan sedekah untuk warga Palestina.

“Nantinya, seluruh hasil penggalangan ini akan disalurkan sebagai bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina. Baik berupa beras yang dikemas dalam bentuk Kapal Kemanusiaan, paket pangan, solar, water tank maupun bantuan kemanusiaan lainnya,” ujar Agus Budi, Kepala Cabang ACT Yogyakarta.

Syekh Atallah pun selalu mengakhiri kisahnya tentang Palestina dengan doa-doa terbaik yang di-aamiin-kan oleh seluruh jamaah.

“Semoga dengan kebersamaan ini, akan membuat kita semua semakin peduli dengan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, maupun di Rohingya. Memberikan aksi terbaik di bulan Ramadan ini,” ungkap Daris salah satu jamaah dari Masjid Muhajirin, di Sleman, Yogyakarta. []