Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, JAKARTA - Mendengar kata wakaf, mungkin yang segera terlintas pada benak masyarakat Indonesia adalah pemakaman, masjid, maupun pesantren. Padahal, makna wakaf lebih luas dari itu. Wakaf bisa menjadi produktif untuk pembangunan sosial dan mengentaskan kemiskinan di masyarakat, dan salah satu caranya adalah dengan membentuk Desa Wakaf (DW).

DW merupakan salah satu program unggulan yang diinisiasi oleh Global Wakaf (GW). Program ini hadir sebagai solusi sistemik untuk menciptakan kesejahteraan umum dan upaya pengentasan kemiskinan secara permanen berbasis aset wakaf yang dikelola oleh Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa (LKWD).

“Konsep program pengentasan kemiskinan melalui pembangunan DW dapat disejajarkan dalam konsep jihad dalam arti yang luas. Jihad sosial di sini dimaksudkan sebagai upaya bersama untuk memberi solusi yang tepat terhadap berbagai masalah sosial dan kemiskinan,” ujar Sri Eddy Kuncoro, Direktur Program Desa Wakaf.

Eddy menjelaskan, basis ideologi dari DW adalah Islam; dikarenakan wakaf adalah produk Islam sehingga semangat dan basis nilai-nilai religius harus meliputi dan melingkupi di dalam proses implementasinya.

“Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ‘Seandainya kemiskinan berwujud seorang manusia, niscaya aku akan membunuhnya.’ Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan suatu masalah yang harus diperangi, khususnya oleh masyarakat Indonesia,” terang Eddy.

Dari desa untuk negeri

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2017, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 persen), dengan penduduk miskin di desa sebesar 16,31 juta orang. Jumlah ini lebih besar dibandingkan kemiskinan di kota sebesar 10,27 juta.

Angka tersebut menunjukkan sebuah anomali. Desa yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan justru memiliki angka kemiskinan yang tinggi. Masalah inilah yang ingin diatasi oleh Global Wakaf melalui DW yang akan diterapkan di beberapa daerah di Indonesia. DW diharapkan mampu memandirikan desa dan membangun kedaulatan pangan dengan mendayagunakan dana wakaf.

Beberapa program prioritas dalam DW untuk tahun 2018 ini seperti di bidang peternakan dengan Lumbung Ternak Masyarakat (LTM);  bidang pertanian dengan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM); bidang infrastruktur sosial seperti pendidikan, pengairan dan masjid; bidang organisasi dengan pendirian Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa (LKWD) yang bertanggung jawab terhadap seluruh program DW; bidang perdagangan dengan bantuan aset dagang, mini Distribution Center, pembangunan pasar; dan bidang human capital dengan pesantren, madrasah, sekolah Islam, sekolah alam dan diklat.

“Dengan pengelolaan dana wakaf yang dikelola di desa, harapannya ini mampu mengembangkan komoditi yang ada di desa. Sehingga, pengelolaan ini menghasilkan keuntungan yang dapat memodali usaha pertanian dan peternakan,” papar Eddy.

Iqbal Setyarso, selaku Vice President Communication Network ACT menyebutkan, nantinya DW bisa menjadi produsen agrikultur dengan memberdayakan rakyat desa dan hasil dari budi daya. Hasil tersebut dapat dijadikan bantuan untuk program kemanusiaan ACT.

Selain itu, produk-produk dari DW juga diperjual belikan dengan harga kompetitif melalui gerai Sodaqo, salah satu pilot project GW dengan PT Hydro. Bahkan, produk DW diharapkan dapat bersaing di perdagangan dunia.

Hadirnya DW ini juga diharapkan dapat memberi dampak sosial ekonomi kepada masyarakat seperti penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan pendapatan asli desa, dan berkembangnya usaha ekonomi rumah tangga dan swasta. Semoga harapan untuk menjadikan desa sebagai ujung tombak pembangunan dapat menjadikan kenyataan dengan hadirnya DW. []