Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BLORA - Kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di Indonesia. Sebanyak 26,58 juta (10,12 persen) masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sekitar 16,3 jutanya berada di desa. Tentu ironis melihat kondisi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Padahal, Islam sudah mengajarkan bahwa kemiskinan adalah musuh bersama dan harus diperangi.

Salah satu solusi yang ditawarkan Islam adalah dengan wakaf produktif. Maslahat wakaf dapat dirasakan oleh banyak orang untuk memberdayakan masyarakat sekaligus mengentaskan kemiskinan. Inilah yang mendasari lahirnya Desa Wakaf (DW), yang diinisiasi oleh Global Wakaf (GW) untuk menciptakan kedaulatan pangan dan mengentaskan kemiskinan di desa.

 

Tidak hanya sekadar angan-angan, GW menghadirkan DW di Kabupaten Blora, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Merauke. Di Blora, masyarakat sudah merasakan manfaat dari DW dengan adanya Lumbung Ternak Masyarakat (LTM), Lumbung Pangan Masyarakat (LPM), dan sejumlah aset wakaf sosial, seperti wakaf sumur.

“Wakaf sumur dengan tenaga listrik atau sumur jibel yang ada di Desa Gadon ini cukup membantu masyarakat dalam meningkatkan produktivitas padi pertanian”, ujar Sumarno, Kepala Desa Gadon, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Sumarno menjelaskan, sebelumnya mayoritas masyarakat Desa Gadon bertumpu pada pemakaian sumur diesel dengan bahan bakar solar. Ini memberatkan petani terutama ketika Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya solar, dalam keadaan langka. Hadirnya sumur ini membantu petani Gadon untuk panen tiga kali dalam satu tahun.

Selain itu, desa wakaf lainnya seperti Desa Jipang di Blora juga berhasil memproduksi ribuan ton padi. Pengelolaan dan pemasaran hasil panen padi ini dilakukan di Lumbung Pangan Masyarakat (LPM), salah satu pilot project GW. Padi dibeli dengan harga terbaik untuk disumbangkan ke beberapa negara konflik seperti 1.000 ton beras ke Somalia, 2.000 ton ke Bangladesh untuk pengungsi Rohingya dan 2.000 ton beras untuk Palestina.

Manfaat dari DW juga dirasakan oleh masyarakat Tasikmalaya dengan terbentuknya LTM serta di Merauke dengan adanya LPM. Selanjutnya akan dilakukan pengembangan DW di daerah lainnya.

“Rencananya DW akan dikembangkan lagi di sepuluh desa di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan luar Jawa,” terang Eka Setiawaty, Supervisor Desa Wakaf.

Semangat membangun umat

Hadirnya DW diharapkan mampu memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur Desa Wakaf - Global Wakaf menyebutkan, basis utama dari DW ini adalah petani dan peternak. Hal ini mengingat salah satu tujuan DW yaitu membebaskan para petani dan peternak dari tengkulak dan ribawi.

“Tujuan dari Desa Wakaf tentu untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar dengan berbasis ekonomi Islam. Sehingga para petani lokal tidak lagi terjerat oleh sistem rentenir atau sistem yang mengandung unsur ribawi. DW juga diharapkan mampu menciptakan kedaulatan pangan nasional tanpa tergantung pihak asing,” ujar Eddy.

Untuk itu dibentuklah LKWD (Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa). Fungsinya sebagai perwakilan nazir wakaf dari GW, yang memiliki organ yg berfungsi sebagai unit pengelola wakaf (UPW) dan unit pengelola keuangan (UPK). Lembaga ini dipimpin oleh seorang nazir GW yang dipilih dari warga lokal.

“Selain berfungsi sebagai pelaksana penyaluran mauquf ‘alaih, LKWD ini juga berfungsi sebagai lembaga keuangan yang dibentuk di tingkat desa dan berfungsi serta dirancang untuk membangun kembali kehidupan masyarakat mandiri dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan juga untuk merespon program-program wakaf produktif untuk kegiatan usaha kecil menengah di tingkat desa,” lanjut Eddy.

Semoga dengan hadirnya DW dapat menjadi ujung tombak pembangunan desa dan pelopor dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. []