Call Center
+62 21 2940 6565

Pada Januari 2017, Jaringan Sistem Peringatan Dini Kelaparan (FEWS NET) melaporkan, Nigeria dan tiga negara lainnya (Somalia, Yaman, dan Sudan Selatan) terancam kelaparan hebat akibat konflik yang berkepanjangan. Pun dengan PBB yang telah memperingatkan hal serupa pada akhir Februari (21/2) lalu.

ACTNews, MAIDUGURI, Nigeria - Julukan Giant of Africa atau Raksasa Afrika telah lama disematkan pada Nigeria, negara yang terletak di bagian barat Afrika, mengingat besarnya jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi di negara tersebut. Tahun 2015 saja, Sang Raksasa Afrika menempati posisi ke-20 sebagai negara dengan perkembangan ekonomi terbesar di dunia, menggeser posisi Afrika Selatan sebagai negara dengan perkembangan ekonomi terbesar se-Afrika pada 2014. Namun, kondisi yang bisa dibilang makmur ini tak sepenuhnya membebaskan Nigeria dari bencana kelaparan.

Mengarah ke timur laut dari ibukota negara, Abuja, kelaparan menghantui sejumlah besar penduduk di beberapa negara bagian Nigeria. Adamawa, Borno, dan Yobe menjadi negara bagian terparah yang mengalami kelaparan, menurut data yang dihimpun oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) di Nigeria. Pada awal Februari lalu (2/2), Sekretaris Jenderal PBB bahkan menyebutkan setidaknya ada 5,1 juta penduduk di Nigeria yang menderita kekurangan pangan serius, 450 ribu di antaranya adalah anak-anak dengan kondisi gizi buruk akut.

Jika Nigeria didapuk sebagai salah satu negara di Afrika dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, lantas mengapa masih ada jutaan penduduk di negara tersebut terancam menderita kelaparan akut?


Konflik Meradang

Selain Sudan dan Somalia, Nigeria juga tak terlepas dari kungkungan konflik horizontal. Sejak konflik pecah pada 2009, beberapa negara bagian di Nigeria menjadi daerah perebutan kekuasaan antara pemerintah dengan kelompok agresif bernama Boko Haram. Wilayah timur laut Afrika menjadi daerah yang terdampak konflik paling parah karena kuatnya intensitas serangan konflik di wilayah itu. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara rumah-rumah, bangunan, dan lahan pertanian rusak parah. Tak ada pilihan lain bagi penduduk setempat selain mengungsi.

World Food Program melaporkan sebanyak 1.9 penduduk telah meninggalkan kampung halaman mereka demi mencari perlindungan. Kamp Bakassi di Maiduguri, ibukota Negara Bagian Borno, banyak menampung pengungsi-pengungsi tersebut. Di sana, tangisan bayi tak pernah absen mengalun setiap harinya. Kerangka tulang kecil berbalut kulit yang begitu kering menjadi pemandangan umum yang terlihat di bangsal-bangsal rumah sakit di sekitar area Kamp Bakassi.

“Kebanyakan dari mereka menderita gizi buruk. Belum lagi mereka juga terjangkit malaria yang memperburuk keadaan mereka. Makanan yang masuk terus dimuntahkan,” ujar Dr Iasac Bot yang merawat anak-anak di unit kesehatan dekat Kamp Bakassi, seperti yang dilansir dari laman Al Jazeera. Selain gizi buruk dan malaria, mereka juga umumnya menderita diare dan infeksi kulit yang diakibatkan oleh bakteri.

Di Maiduguri sendiri terdapat 15 area kamp pengungsian. Penduduk yang tersebar di beberapa daerah di Negara Bagian Borno, wilayah yang terdampak konflik paling parah, melarikan diri ke kamp-kamp tersebut. Sementara itu, lahan-lahan pertanian di kampung halaman mereka ditinggalkan. Lahan pertanian kosong dan rusak akibat bombardir serangan kelompok agresif, tak ayal produksi pertanian dan perkebunan menurun drastis. Kerawanan pangan, tingginya inflasi, dan kemiskinan menjadi efek domino konflik yang berujung pada kelaparan dan kematian. Semua itu memuncak di penghujung tahun 2016 silam dan masih berlangsung hingga kini.

PBB menekankan gentingnya krisis kelaparan di Nigeria yang umumnya melanda anak-anak. Sebanyak 400 ribu anak yang tersebar di Borno, Adamawa, dan Yobe terancam kelaparan akut, sementara 75 ribu di antaranya bisa mati kelaparan dalam beberapa bulan ke depan jika tidak ada penanganan segera.


SOS for Nigeria

Menjawab krisis kelaparan di negeri yang dijuluki sebagai Raksasa Afrika, Aksi Cepat Tanggap akan mengirimkan Tim SOS for Nigeria untuk yang pertama kalinya. Rencananya, tim akan berangkat pekan kedua atau ketiga Maret 2017, menuju wilayah yang tengah dilanda krisis pangan terparah di Nigeria: Maiduguri. Paket pangan akan menyapa para pengungsi internal yang tersebar di kamp-kamp pengungsian yang ada Maiduguri.

Nigeria melengkapi daftar negara-negara terdampak krisis kekeringan dan kelaparan yang akan disambangi oleh Tim Kemanusiaan ACT. InsyaAllah, bantuan kemanusiaan juga akan menyapa Sudan Selatan dan Yaman, seperti yang sudah berlangsung di Somalia. Empat tim kemanusiaan untuk empat negara yang tengah terancam kelaparan akut, semoga komitmen kepedulian ini mampu menjadi solusi atas apa yang disebut PBB sebagai “krisis kemanusiaan terbesar sejak 1945”. []

Sumber Foto: AP & AFP