Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, JAKARTA - Tujuan membangun bisnis tidak hanya soal mengejar profit dan aset, namun juga untuk meraih rida-Nya. Bagi sebagian pengusaha muslim, bisnis kerap diselingi dengan berwakaf. Yuli Prassetiowati (39), pengusaha di bidang home care chemical product, laundry and cleaning service, memandang wakaf sebagai instrumen untuk bertransaksi dengan Allah. Menurutnya, sudah selayaknya mendisiplinkan diri untuk membuat anggaran khusus untuk berwakaf.

Yuli menjadikan wakaf sebagai pandangan hidup. Secara rutin ikut berwakaf melalui GWC. Yuli  aktif mewakafkan hartanya sebanyak 1 juta rupiah setiap jumatnya.

Bagi perempuan berdarah Jawa Timur dan Betawi ini, Wakaf adalah salah satu sarana ibadah di luar sholat, puasa, infak dan sedekah. Wakaf adalah tahapan lanjutan seseorang untuk memperbanyak amal ibadah yang juga memberikan banyak manfaat dalam meningkatkan perekonomian orang lain. Menurutnya, manfaat dari wakaf ini tidak ada habisnya, bahkan sampai wakif meninggalpun masih akan tetap dirasakan.

“Banyak manfaat wakaf ini, jadi bukan sesuatu yang kita berikan kepada seseorang lalu habis begitu saja. Manfaatnya bisa dalam jangka waktu yang panjang. Ketika wakif meninggal pun, wakaf yang ia berikan menjadi amal jariyah bagi dirinya di akhirat nanti. Wakaf inilah sesuatu yang bisa kita bawa mati,” ujar Yuli.

Motivasi Yuli untuk berwakaf sudah tumbuh sejak lama. Motivasi ini semakin bertambah ketika ia menerima ajakan temannya untuk mengikuti Wakaf Business Forum (WBF) yang diadakan oleh Global Wakaf di menara 165 sekitar satu tahun yang lalu. Melalui kegiatan tersebut, ia semakin memahami tentang pentingnya wakaf produktif untuk membangun perekonomian masyarakat.

“Saya sudah beberapa kali ikut kegiatan yang diselenggarakan oleh Global Wakaf. Waktu itu pembicaranya Pak Imam T. Saptono dan beberapa pembicara lagi. Jadi sudah lumayan teredukasi mengenai wakaf produktif itu sendiri,” jelas Yuli.

Semangat berwakaf ini juga ia sebarkan kepada teman-temannya yang masih belum memahami tentang manfaat dari wakaf produkif ini. Disinilah ia melihat pentingnya menggalaknya tentang wakaf produktif melalui sosialisi dan edukasi agar masyarakat berlomba-lomba untuk ikut berwakaf. Edukasi ini juga penting agar masyarakat tau beda wakaf dengan zakat dan sedekah.

Selain edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, satu hal lagi yang paling menurut Yuli untuk menarik masyarakat adalah portofolio wakaf dari pengelola wakaf (nadzir) itu sendiri. Dengan demikian, masyarakat melihat dan merasakan langsung manfaat dari wakaf produktif ini.

Menurut Yuli, masyarakat butuh bukti dan contoh hasil dari wakaf produktif. Adanya portofolio ini dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk berwakaf dan meningkatkan pengetahuan masyarakat bahwa wakaf tidak hanya tentang masjid, pesantren dan kuburan, tetapi wakaf produktif ini merupakan sesuatu yang berbeda yang memberikan manfaat lebih luas dan patut diperjuangkan oleh umat Islam.

Yuli berharap aset yang telah ia wakafkan dikelola secara profesional sehingga aset ini dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dengan adanya bukti yang nyata.

“Saya berharap aset yang telah diwakafkan ini dirasakan langsung oleh masyarkat dengan adanya bukti nyata, ada bentuknya sehingga itu akan memudahkan masyarakat untuk percaya sehingga mereka paham apa itu wakaf, apa zakat, apa sedekah,” lanjut Yuli.

Semangat Yuli untuk membangun rumah di surga melalui wakaf menjadi motivasi yang patut kita contoh. Melalui semangat tersebut, masyarakat akan tahu bahwa wakaf produktif menjadi salah satu sarana ibadah yang pahalanya tidak akan terputus.

Wakaf ibaratkan berbisnis dengan Allah untuk akhirat nanti. Seperti yang dikatakan Yuli “Dengan berwakaf ini kita sedang bertransaksi dengan Allah. Sedang membeli kavling di surga,” pungkas Yuli. []