Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, MERAUKE - Fajar mulai menyingsing. Dengan parang di sebelah kiri pinggang, Masrum bersiap menuju sawahnya yang genap berumur 14 hari sejak pembibitan pada akhir Juli lalu. Sudah saatnya dilakukan pemupukan. Laki-laki ini mulai menyiangi gulma dari pagi sampai sore hari serta melakukan pencegahan terhadap hama dan penyakit tanaman lainnya. 

“Gulma ini tumbuhan pada lahan pertanian yang kehadirannya tidak diinginkan, karena dapat menurunkan hasil panen. Pembasmian gulma berguna untuk kesuburan tanaman serta enak dipandang,” ujar Masrum. Ia merupakan salah satu petani binaan Global Wakaf melalui program Desa Wakaf di Merauke.

Musim kemarau yang mulai melanda Kampung Ivima-had, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, tempat Masrum bercocok tanam, menyebabkan volume air mulai terbatas. Masrum pun harus memutar otak untuk menjaga sawah agar tetap produksi dengan baik. Maka Masrum menggunakan sistem tabela atau tanam benih langsung untuk tiga lahan hektar berikutnya.

“Tanam benih langsung (tabela) berbeda dengan tanam pindah (tapin). Tabela ini lebih efisien karena biaya tanam lebih kecil, menghemat tenaga kerja dan menghemat penggunaan air,” jelasnya.

Kekurangan dari tabela adalah perawatan di awal pertumbuhan yang lebih rumit dibandingkan tapin. Pekerjaan ekstra diperlukan untuk penyulaman dan penyiangan gulma. Oleh karena itu, Masrum terus melakukan penyiangan gulma untuk menjaga hasil panen yang optimal.

Bantu petani Merauke

Masrum merupakan salah satu petani yang ikut merasakan dampak hadirnya Desa Wakaf (DW) di kampung Ivima-had. DW sendiri merupakan salah satu program unggulan dari Global Wakaf (GW) yang bertujuan untuk membangun kemandirian petani Indonesia, salah satunya petani Merauke. Sutadi selaku Pendamping Program Desa Wakaf di Merauke menyebutkan, kehidupan petani di Merauke cukup memprihatinkan. 

“Kehidupan mereka gali lubang, tutup lubang. Bertani hanya menyambung nikmat, tidak menikmati. Kalau kekurangan modal, biasanya petani ini minjam ke pemodal yang dikenakan bunga. Beban hidup semakin berat,” tuturnya.

Namun, secara perlahan tapi pasti, permasalahan modal ini mulai diatasi dengan hadirnya DW yang bekerja sama dengan koperasi lokal. Dengan bantuan DW melalui koperasi tersebut, para petani dapat meminjam modal tanpa bunga.

“Dengan bantuan ini para petani jadi lebih semangat untuk menanam. Mereka sangat terbantu,” ucap Sutadi.

Sutadi menjelaskan, adanya DW juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dengan terberdayakannya 19 petani lokal. Selain itu, DW juga melakukan pendampingan serta memperhatikan aspek rohani para petani.

“Alhamdulillah program rohani yang dicanangkan Desa Wakaf sudah mulai berjalan. Kegiatan ini dilakukan satu bulan satu kali. Kalau perkembangan bagus, kita akan lakukan tiap pekan. Kita ingin kuatkan rohani, karena matinya panen bukan hanya karena pupuknya tetapi karena kuasa Allah,” pungkasnya.

DW merupakan program pertama yang hadir di tanah Papua. Berbagai kegiatanpun dilakukan seperti penyemaian bibit padi di lahan sekitar 50 ha pada Sabtu (21/7) lalu dan pendampingan terhadap petani, serta rencana perluasan lahan sebesar 350 ha untuk musim tanam bulan Oktober 2018. Diharapkan keberadaan DW ini dapat memberdayakan para petani lokal serta mewujudkan ketahan pangan Papua. []