Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, ACEH JAYA - Pesona Aceh tak ada habisnya. Bukan saja pesona alamnya yang indah, tetapi Aceh juga menyimpan potensi kekayaan alam yang luar biasa, seperti gas alam dan minyak bumi. Selain itu negeri  dengan julukan Serambi Mekkah ini juga terkenal sebagai daerah yang memproduksi minyak serai wangi, salah satunya di Kabupaten Aceh Jaya.

Global Wakaf (GW) mendatangi salah satu lahan wakaf yang ditanami serai wangi di Desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya. Bersama Mustafa HS, pewakif yang mewakafkan lahan di Global Wakaf, kami menyusuri lahan wakaf seluas 110 ha. Tak jauh dari lahan tersebut, terdapat bangunan penyulingan serai wangi.

“Alhamdulillah sejak panen 10 ha pertama pada awal Juli lalu, kini ratusan serai wangi hasil wakaf lahan melalui Global Wakaf sudah masuk proses penyulingan,” ujar Mustafa. Proses penyulingan tersebut masih berlangsung hingga pekan pertama Agustus ini.

Proses penyulingan tanaman serai wangi hingga menjadi minyak atsiri cukup sederhana. Mustafa menjelaskan, setelah panen dilakukan, serai wangi kemudian dikeringkan selama dua hari. Barulah kemudian bisa diangkut ke lokasi penyulingan. Di lokasi penyulingan sudah terdapat alat-alat penyulingan berupa drum-drum, tempat pendinginan dan alat penyuling lainnya. Serai wangi yang sudah dikeringkan kemudian dimasukkan ke dalam drum penyulingan.

“Di dalam drum ini ada kuali berisi air yang dipanaskan dengan api. Uap panas keluar untuk memanaskan serai wangi, nanti uap mengalir ke pipa penyulingan yang direndam air, barulah dari pipa keluar minyaknya. Penggunaan bak pendingin ini diperlukan agar pipa tidak terlalu panas. Kalau pipa panas biasanya minyak yang dihasilkan tidak bagus,” ucap Mustafa.

Mustafa menerangkan, serai wangi ini merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri potensial. Sehingga, ia berharap agar masyarakat sekitar ikut andil dalam membudidayakan serei wangi di atas tanah wakaf ini.

Bermula dari wakaf lahan 

Mustafa adalah salah satu pengusaha perkebunan kelapa sawit di Aceh Jaya. Pimpinan Yayasan Pesantren Al-Anshar ini tadinya mau berbisnis serai, namun akhirnya mewakafkan 110 hektar tanahnya untuk dikelola GW. Niatnya benar-benar untuk membantu umat Islam dan memberdayakan masyarakat.


Ikrar sudah diucapkan, akad sudah dilakukan. Dengan GW sebagai nazir maka dilakukanlah tahap percobaan awal terhadap lahan 10 ha yang ditanami serai wangi terbaik. Penanaman dilakukan mulai Desember 2017 sampai panen awal pada Juli 2018. Saat ini sudah masuk tahap penyulingan serta rencana penanaman 100 hektar lainnya secara bertahap.

“Alasan memilih serai wangi di lahan wakaf ini karena proses penanaman awal serai sangat sederhana seperti biaya awal yang tidak besar. Tidak ada hama yg menyerang serai wangi, tidak perlu pemupukan. Dari segi usia tanaman juga tergolong lama yaitu bisa tumbuh hingga 30 tahun degan masa panen yg cepat yaitu pada bulan ke-8 dan panen selanjutnya 3 bulan setelah itu, panen lagi 3 bulan selanjutnya hingga seterusnya selama 30 tahun,” pungkas Mustafa.

Hasil dari serai wangi ini sendiri akan didistribusikan kea agen-agen maupun langsung ke Kota Blangkejeren Provinsi Aceh dengan kisaran harga 320 ribu sampai 340 ribu per-kilonya. Keuntungan yang didapat akan disalurkan kepada maukuf alaihi (penerima manfaat) yaitu pesantren yang diasuh Mustafa dan program-program kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Selain itu, dengan adanya serai wangi di atas lahan wakaf ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Semoga wakaf produktif di Aceh ini menjadi salah satu wujud dari kebangkitan perekonomian umat. Kebangkitan yang dimulai dari wakaf produktif, pilar ekonomi Islam sempat hilang di Indonesia.[]