Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, GUNUNGKIDUL – Selain terkenal dengan tempat wisatanya yang mempesona, Kabupaten Gunungkidul ternyata juga menyimpan beragam permasalahan. Salah satunya adalah masalah kekeringan. 

Sejak pertengahan 2018 ini, setidaknya tercatat 31.607 keluarga di Gunungkidul tengah mengalami kekeringan dan darurat air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mengungkapkan dari 18 kecamatan, sebanyak 13 kecamatan telah dinyatakan darurat kekeringan dan krisis air bersih yaitu Kecamatan Rongkop, Tepus, Semin, Tanjungsari, Saptosari, Ponjong, Nglipar, Panggang, Semanu, Gedangsari, Ngawen, Girisubo, dan Purwosari.  

Salah satu kecamatan yang menjadi perhatian Global Wakaf - ACT ialah Kecamatan Ponjong, tepatnya di Dusun Plalar, Desa Umbungrejo. Kekeringan sudah melanda dusun tersebut sejak bulan Maret lalu yang mengakibatkan masyarakat setempat harus memanfaatkan sungai 1 kilometer dari pemukiman. 

“Ya, mau gimana lagi adanya air sungai, sudah jauh, jalannya naik turun, ya kita manfaatkan untuk keperluan minum ternak dan rumah tangga” ujar Sunar, warga setempat.

Dusun Plalar sebenarnya memiliki beberapa sumur galian yang dalamnya 10 sampai 15 meter. Namun, jumlah airnya yang sedikit tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat satu dusun. Di samping itu, sebagain masyarakat lainnya hanya bergantung pada bantuan truk tangka air dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Sumur dalam pun digali di dusun tersebut. Sumur ini merupakan realisasi  dari Program Wakaf Sumur yang diinisiasi oleh Global Wakaf, untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat yang dilanda kelangkaan air.

Pembangunan sumur wakaf di Desa Umbulrejo dimulai sejak awal Agustus lalu dan rampung dalam waktu sepekan. Uniknya, yang membuat warga bersukacita ialah air mengalir deras ketika mata bor menyentuh tanah di kedalaman 90 meter. 

Umumnya, air tanah akan keluar ketika sumur bor dipompa dengan mesin diesel atau listrik. Bahkan, yang paling tidak beruntung adalah ketika sudah dibor berkali-kali, tetapi tidak ditemukan sumber mata air. Widi selaku koordinator pengebor mengemukakan, berdasarkan pengalamannya, air yang keluar sendiri dari dalam tanah tanpa dibantu pompa air menandakan kalau di bawah tanah tersebut terdapat sumber mata air yang melimpah. 

Fenomena tersebut membuat warga dusun Plalar datang berbondong-bondong menyaksikan sumber mata air melimpah yang tersimpan lama di dusun mereka. Dengan senyum gembira Marsino selaku Kepala RW dusun setempat menyampaikan rasa syukurnya kepada Global Wakaf.

“Terima kasih, sudah dibangunkan sumur bor di dusun kami, semoga sumur bor ini manfaatannya dapat dirasakan seluruh warga sini” ujar Marsino. 

Tak lupa keberhasilan pembangunan sumur kali ini merupakan wakaf dari Hiswana Migas DIY. Selain pembangunan wakaf sumur di Desa Umbulrejo ini, Global Wakaf DIY telah membangun sembilan sumur wakaf produktif tersebar di area Yogyakarta, yang sebagian besar dibangun di Kabupaten Gunungkidul.

Kepala Cabang Global Wakaf-ACT DIY Agus Budi Hariyadi mengemukakan, pihaknya akan terus membangun sumur-sumur baru di wilayah-wilayah yang sedang mengalami kekeringan, khususnya di Yogyakarta. “Insya Allah pembangunan sumur wakaf produktif akan terus dilakukan di titik-titik baru yang masih rawan kekeringan, karena kita tahu bahwa sebaik-baik sedekah adalah sedekah air. Terima kasih kepada seluruh pewakif yang telah mempercayakan Global Wakaf ACT dalam ikhtiarnya menanggulangi kekeringan di Yogyakarta,” tandasnya. []