Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LOMBOK TENGAH - Masih dekat dengan pusat kota di Kabupaten Lombok Tengah, penampakan khas persawahan desa mulai terlihat. Hamparan luas lahan pertanian itu seakan mampu mewakili Indonesia sebagai negeri agraris. Sejak dulu mayoritas warga Lombok memang bermata pencaharian sebagai petani, termasuk petani padi.

Dengan tekad membangun kembali kehidupan dan perekonomian Lombok, Global Wakaf melihat potensi itu melalui kacamata pertanian. Ikhtiar pembangunan Lombok di bidang pangan ini juga berangkat dari masih tingginya kebutuhan pangan warga Lombok di masa pemulihan.

Sudah sekitar dua pekan, Global Wakaf melakukan pembinaan dengan menggerakkan program Desa Wakaf di beberapa wilayah terdampak, salah satunya Kabupaten Lombok Tengah. Global Wakaf melakukan kerja sama dengan warga setempat yang memiliki gudang huler. Terletak di Dusun Batu Numpuk, Desa Pengadang, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, gudang huler ini setiap harinya mampu menggiling 8 ton gabah kering.  

Presiden Global Wakaf N. Imam Akbari mengatakan, nantinya Desa Pengadang akan menjadi desa binaan Global Wakaf. Selain memberdayakan gudang huler yang sempat vakum pascabencana, Global Wakaf berharap program Desa Wakaf juga bisa kembali memberdayakan petani-petani lokal dan juga masyarakat Lombok.

“Sehingga kebaikannya terus mengalir ke semua elemen masyarakat Lombok. Terutama bagi masyarakat yang terkena dampak gempa. Sebab, untuk saat ini, beras hasil gilingan padi itu didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan di pengungsian,” kata Imam.

Tak hanya itu, Global Wakaf bersama relawan-relawan lokal pun turut membangun sarana-prasarana pengelolaan melalui Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa (LKWD). Kesulitan-kesulitan terkait pendanaan dan proses pertanian seperti pengelolaan musim tanam, panen, penggilingan, dan pendistribusian bisa menjadi lebih produktif.

“Apalagi masa-masa pemulihan, pengadaan logistik termasuk beras harus lebih masif lagi. Desa Wakaf, insya Allah bisa jadi solusi yang efisien dan efektif. Sehingga, masyarakat bisa merasakan manfaatnya, dan perekonomian kembali membaik,” tutur Imam.

Produktivitas dan kualitas paling utama

Sejak pagi para relawan ahli menggiling padi dengan mesin huler sudah giat beraksi. Berawal dengan menjemur gabah padi yang sudah terkumpul di bawah sinar matahari. Proses penjemuran lebih kurang memakan waktu satu hari. Sehingga, penggilingan baru bisa dilakukan keesokan harinya.

“Di sini kami menggunakan tiga mesin huler, mesin pemecah pertama, pemecah kedua, lalu mesin pemolesan. Sebelum pemolesan, biasanya kami ayak agar terpisah dari kulit padinya,” kata Saeful Muslim, Koordinator Desa Wakaf Pengadang, Lombok Tengah, Rabu (28/8).

Tak membutuhkan waktu lama, gudang huler Desa Wakaf Pengadang mampu menghasilkan 8 ton beras per hari. Namun terkendala pasokan padi, gudang tersebut masih lemah produktivitasnya. Padahal masih banyak warga Lombok di tenda pengungsian yang membutuhkan bantuan.  

“Sebab itu kami akan ikut berupaya membersamai lebih banyak petani lokal lagi demi produktivitas pengadaan dan kualitas beras. Kami berharap dengan adanya program dari Global Wakaf - ACT ini sedikit banyak bisa membantu warga Lombok, terutama saudara-saudara kami di Lombok Utara,” kata Saeful.

Desa Pengadang merupakan satu di antara beberapa wilayah yang menjadi sasaran Global Wakaf untuk membangun potensi perekonomian melalui pertanian. Global Wakaf telah berencana menyapa wilayah-wilayah lain, khususnya Lombok Utara yang paling terdanpak dengan program Desa Wakaf. Sampai kembali pulih kehidupan dan perekonomian warga Lombok. []