Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, SUMBAWA - Hanya butuh waktu sebentar bagi Mukhlis menjadi yakin untuk berwakaf. Keyakinan tersebut muncul ketika ia bertemu dan berdiskusi dengan tim Global Wakaf ACT pada hari raya kurban Agustus lalu. Perbincangan singkat itu telah membuka wawasannya tentang potensi besar dari wakaf. Ia semakin bersemangat ketika tahu bahwa manfaat sosial dari wakaf yang dikelola oleh Global Wakaf, lebih besar dari yang ia bayangkan.

“Dulu itu saya tahunya wakaf hanya tentang kuburan sama masjid saja. Itulah pengetahuan kita di kampung. Tetapi setelah bertemu Global Wakaf, pandangan saya tentang wakaf menjadi lebih luas lagi. Kita berwakaf menjadi lebih bermanfaat dan produktif,” terang bapak dua anak ini.

Mukhlis sendiri memang dikenal sebagai warga Desa Sukadamai, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia merasa iba dengan kondisi kemisikinan di Labangka dan kondisi masyarakatnya yang ‘kurang berusaha’. Kondisi ini menggerakkan ia untuk merintis usaha jagung sejak tahun 1998 sampai saat ini.

“Di awal-awal membuka usaha jagung ini, saya sering dibilang oleh masyarakat Labangka orang "gila". Seiring berjalannya waktu orang "gila" ini dapat mengubah Labangka menjadi sentra jagung yang diperhitungkan.,” lanjutnya.

Mukhlis juga berbisnis ternak sapi yang biasanya dijual ke Lombok. Sapi-sapi yang ia miliki terkadang dikembangbiakkan oleh teman-temannya dengan sistem bagi hasil. Bisnis ternaknya ini sudah mempekerjakan 15 orang warga sekitar. Tak sampai di situ, Mkhlis yang juga berprofesi sebagai Kepala Sekolah SMP 1 Labangka ini menyumbangkan seluruh gajinya bagi yang membutuhkan.

“Tahun 2005 sampai 2010 itu gaji seluruhnya saya infakkan untuk pembangunan masjid di Desa Sukadamai. Alhamdulillah masjid sudah mulai bisa digunakan. Nah, sekarang gaji ini saya infakkan seluruhnya untuk keperluan sekolah terutama gaji pegawai dan guru-guru. Karena kalau hanya mengandalkan dana BOS itu kurang, kasihan pegawai dan guru-guru di sini,” ungkap pria kelahiran Labangka ini.

Namun, pria yang memiliki hobi beternak ini masih merasa kurang dengan apa yang telah ia lakukan. Mukhlis ingin membantu lebih bagi saudara-saudara yang membutuhkan. Sehingga pertemuannya dengan Global Wakaf menjadi titik temu untuk mengangkat kehidupan masyarakat Sumbawa. Dengan yakin, ia wakafkan 35 Ha tanah miliknya beserta isi-isinya seperti ratusan ekor sapi, tempat penggemukan sapi, dan beberapa gedung tempat karyawan tinggal.

“Kalau kita syukuri rahmat Allah kita akan merasa cukup, kita perlu bantu saudara-saudara kita yang kurang. Wakaf ini kan untuk sosial. Saya sangat senang karena apa yang kita miliki sudah kita sumbangkan kepada Allah SWT,” ucap Mukhlis.

Semakin yakin dengan potensi wakaf

Keyakinan Mukhlis tentang luasnya maslahat wakaf semakin bertambah setelah ia mengunjungi Desa Wakaf di Blora. Kamis (7/10) itu menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. Siang itu, ia bersama istri dengan ditemani tim Global Wakaf berkunjung untuk melihat secara langsung praktik dari program Desa Wakaf di Blora.

Satu per satu aset wakaf di Blora ia sambangi, mulai dari Lumbung Ternak Wakaf kemudian dilanjutkan ke Lumbung Pangan Wakaf (LPW). Wajah yang penasaran berubah menjadi kekaguman dan semangat untuk mengembangkan program Desa Wakaf di tanah kelahirannya di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

“Ternyata wakaf bisa begini ya, saya nggak kebayang besarnya manfaat wakaf kalau dikelola sebaik ini,” ujar Mukhlis.

Kekagumannya atas maslahat yang dihasilkan Desa Wakaf di Blora memotivasi Mukhlis bersama Global Wakaf untuk mengembangkan Desa Wakaf di Sumbawa. “Setelah kita jalan-jalan, sangat tertarik sekali dengan apa yang dilakukan Global Wakaf. Dengan apa yang kita saksikan di Cepu ini sangat luar biasa. Mudah-mudahan bisa diterapkan di Sumbawa,” ujar Mukhlis haru.

Apa yang ia lihat di Cepu semakin memperkuat alasannya dalam memilih Global Wakaf sebagai nazir untuk mengelola lahan yang ia wakafkan. “Global Wakaf ini luar biasa, sangat profesional dan potensinya sangat besar untuk membantu sesama. Apa yang kita lihat di Cepu adalah contoh nyatanya,” pungkas Mukhlis.

Mukhlis yakin dengan berwakaf, dirinya tidak semakin miskin, namun justru harta bertambah di akhirat nanti. Ia berharap, wakaf juga mampu memberdayakan masyarakat Sumbawa.  []