Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LOMBOK UTARA – Sudah tiga bulan lebih pascabencana gempa melanda Lombok. Sebagian masyarakat yang masih tinggal di hunian sementara kini mulai kesulitan air bersih. Kelangkaan air ini diakibatkan beberapa sumber mata air menghilang setelah dilanda gempa. Hal ini diperparah karena intensitas hujan yang kecil meskipun beberapa daerah di Indonesia sudah memasuki musim penghujan.

Ibu Mahnun, salah seorang warga dari Dusun Sambik Jengkel, Desa Selengan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara menceritakan, pascagempa yang melanda, beberapa debit air yang mengalir melalui pipa ke rumah-rumah warga, mulai mengecil bahkan tidak sama sekali. Sehingga, warga harus mencari air ke mata air yang jaraknya cukup jauh. Mata air menjadi rebutan.

“Kalau saya tidak kuat untuk angkut air. Anak dan suami saya yang angkut air. Kurang lebih dua kilo mereka jalan,” ungkap Mahnun menggunakan bahasa sasak khas Lombok Utara.

Sebelumnya, warga menikmati beberapa sumbangan air dari sejumlah dermawan yang datang ke desa mereka. Namun, karena jumlah penduduk hampir 230 kepala keluarga, jumlah air yang dibagikan pun terbatas. Air yang datang hanya digunakan untuk minum, memasak, dan mencuci piring.

Kekeringan ini tak hanya dirasakan warga yang berada di Kecamatan Kayangan saja, namun juga warga yang berada di Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan. Desa berpenduduk sekitar 250 KK ini juga kesulitan mendapatkan air, meski sebelumnya sudah ada pipa yang terpasang dari mata air dari kaki Gunung Rinjani.

“Kemarin sudah tertimbun Longsor. Jadi pipa sudah putus sehingga air tak mengalir lagi, kalau mata airnya sih masih ada,” papar Jayadi, salah satu tokoh pemuda di Dusun Lekok, Desa Sambik Elen.

Jayadi menambahkan, untuk memperoleh air, warga yang harus menempuh perjalanan 3,5 kilometer karena lokasinya berada di perbukitan dengan jalur yang menanjak. Ia berharap, baik pemerintah atau NGO bisa menyediakan pipa bagi masyarakat. “Kami hanya butuh itu saja. Kalau memasangnya, kami sudah paham medan. Meski melewati bukit yang terjal. Insyaallah bisa terpasang,” ungkap Jayadi.

Sementara itu, Muhammad Ikhsan dari tim Global Wakaf yang turun langsung di beberapa wilayah di Lombok Utara mengatakan, kondisi mata air di sana sangat sulit. Hal ini berbeda dengan waktu sebelum gempa, di mana air berlimpah dan warga bisa memperoleh air dengan mudah. “Di Sambik Jengkel saja, kita sudah upayakan sumur bor dalam. Sampai saat ini kita sudah menggali dengan kedalaman 40 meter, namun belum memperoleh air. Kami masih melakukan penggalian dan semoga lekas menemukan sumber mata airnya,” jelas Ikhsan.

Sementara di Kecamatan Bayan, Global Wakaf telah membuat pipanisasi air dengan satu unit penampungan air yang luasnya 15 meter persegi. Penampungan ini akan dialiri langsung dari mata air kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga. Pipanisasi air juga telah dibuat di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

“Sebenarnya masih banyak lokasi kekeringan di Lombok yang belum tertangani. Ini menandakan Lombok belumlah pulih seutuhnya. Warga Lombok masih membutuhkan kepedulian kita semua. Oleh karena itu, kami harapkan dari semua pihak untuk sama-sama terlibat membantu masyarakat Lombok,” harap Ikhsan. []