Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, JAKARTA - Wakaf merupakan praktik filantropis yang memainkan peranan penting dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dalam dunia Islam. Keberadaan wakaf terbukti telah banyak membantu pengembangan dakwah, termasuk di Indonesia dengan keberadaan masjid, pesantren dan lembaga pendidikan lainnya yang ditopang oleh wakaf. Agar wakaf menjadi lebih produktif yang berdaya guna optimal dan berkesinambungan, maka dikembangkanlah wakaf dalam bentuk uang (cash waqf).

Wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Hukum dari wakaf uang sendiri adalah boleh. Ini berdasarkan pada pandangan Imam Zufar Mazhab Hanafi, Maliki dan sebagian ulama Syafi’i. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa wakaf uang dapat dijadikan modal sebagai usaha yang keuntungannya disalurkan kepada mauquf alaihi sesuai tujuan wakafnya. Ulama tersebut juga berpandangan wakaf uang boleh digunakan sebagai pinjaman.

Imam Teguh Saptono dalam tulisannya “Kajian Produk Investasi Berbasis Wakaf” menyebutkan, praktik penggunaan wakaf uang baru berjalan secara intensif di era khilafah Turki Ustmani. Riset Murat Cizakzca mengungkapkan jumlah institusi wakaf uang di Bursa pada periode 1555-1823 mampu bertahan lebih dari 1 abad dan memilki kinerja yang baik mencapai angka 148 lembaga nazir.

Wakaf uang oleh lembaga wakaf di negara ini dijadikan sebagai sumber pembiayaan usaha dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Turki. Mayoritas akad yang digunakan adalah murabahah dengan marjin profit 10-11 persen, dan sebagian mudharabah. Marjin profit inilah yang kemudian disalurkan untuk tujuan-tujuan sosial keagamaan dengan pokok wakaf yang tidak berubah.

Menurut Ridwan El-Sayed yang dikutip oleh Imam, wakaf uang di Turki berhasil meringankan perbelanjaan kerajaan dalam menyediakan kemudahan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan profesi lainnya kepada masyarakat. Pada masa Turki modern, model wakaf tunai juga mampu membantu mewujudkan tujuan makro ekonomi modern.

Wakaf uang di era modern ini kembali menjadi populer berkat sentuhan M.A Mannan dengan berdirinya sebuah lembaga yang disebut Social Investment Bank Limited (SIBL) di Bangladesh. Bank inilah yang pertama kali di dunia yang mengeluarkan produk Sertifikat Wakaf Tunai. SIBL bertugas untuk mengumlpulkan dana dari orang kaya yang kemudian dikelola secara profesional sehingga menghasilkan keuntungan yang dapat disalurkan kepada para fakir miskin (mustadh’afin).

Di Indonesia sendiri, wakaf uang baru mulai kembali digaungkan. Sebelumnya, pandangan masyarakat tentang wakaf hanya berkisar pada sekolah, makam dan lainnya. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2002 sudah menfatwakan bahwa hukum wakaf uang adalah boleh. Hal ini mengingat besarnya potensi wakaf uang di negara mayoritas muslim ini. Sebagai contoh 50 juta muslim berwakaf Rp. 100.000 setiap bulan akan menghasilkan 60 triliun rupiah wakaf uang setiap tahunnya.

Pengelolaan wakaf secara produktif juga menjadi fokus Global Wakaf. Aset wakaf baik yang bergerak maupun tidak bergerak, dikelola secara optimal. Dana wakaf misalnya, Global Wakaf memproduktifkan aset wakaf tersebut dengan menggulirkan sejumlah program berbasis ekonomi kerakyatan dan sosial. Misalnya, Lumbung Ternak Wakaf (LTW), Lumbung Pangan Wakaf (LPW), Wakaf Sumur, Warung Wakaf, dan lainnya.

Pembangunan aset produktif tersebut terbukti mampu menyejahterakan dan memberdayakan masyarakat sekitar. Contohnya saja dengan berdirinya Lumbung Pangan Wakaf (LPW) di Desa Jipang, Kabupaten Blora. LPW sendiri merupakan program pengembangan pertanian untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa melalui indsutrilisasi di bidang pertanian. Semua ini akan bermuara ke swasembada pangan berupa pengadaan sistem irigasi, bantuan alat pertanian, permodalan dan kebutuhan lainnya terkait bidang pertanian.

Melalui LPW, Global Wakaf mengelola lahan pertanian 90 ha yang dikelola 347 petani binaan. Di Desa Jipang juga dibangun gudang seluas 400 m2 dan huler. Hasil panen setiap tahunnya sekitar 867 ton dengan total penerima manfaat sekitar 2130 jiwa. Dengan LPW, para petani juga terbebas dari tengkulak. Ribuan ton gabah petani dibeli oleh Global Wakaf dengan harga terbaik bukan untuk mendapatkan keuntungan, melainkan untuk bantuan kemanusiaan dan masyarakat yang membutuhkan.

LPW hanyalah salah satu portofolio dari banyak portofolio lainnya yang dimiliki oleh Global Wakaf. Masih banyak lagi dana wakaf yang diproduktifkan oleh Global Wakaf untuk mengangkat perekonomian umat khususnya di Indonesia. Ini menunjukkan, praktik wakaf uang sangat berpotensi memberdayakan dan menyejahterakan masyrakat. Global Wakaf sudah mempraktekkannya. []