Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LOMBOK BARAT – Lombok yang dikenal dengan wisata syariahnya, perlahan mulai pulih pascagempa yang melanda beberapa waktu yang lalu. Kini beberapa wisatawan mulai berdatangan, bahkan mulai terlihat ramai. Nurwahidin, salah satu pengrajin gerabah di Desa Lelede mengatakan, pascagempa, penjualan hasil gerabahnya menurun drastis. Bahkan dua bulan setelah gempa berlalu, tak satu pun barang dagangnya yang terjual. 

Sebagian besar pembeli, menurut bapak dua anak ini, berasal dari rumah makan, hotel, serta vila yang mulai membangun kembali. Namun, jumlahnya tak sebanyak ketika sebelum gempa. “Pernah sih kita dapat keluhan, tidak ada warung yang lengkap menjual minuman atau snack untuk wisatawan,” ujar Nurwahidin

Keluhan Nurwahidin kini terobati dengan hadirnya Warung Wakaf di Pondok Pesantren Al-Muahhidin Lelede, Kecamatan Kediri, Lombok Barat pada Kamis (29/11). Menurutnya, selain dapat memenuhi kebutuhan wisatawan, kehadiran Warung Wakaf  akan menambah daya tarik bagi wisatawan lainnya untuk datang ke Lombok. Ini dikarenakan di Lelede sendiri, kini tak hanya ada pusat gerabah saja, namun juga ada warung modern yang mengusung nilai syariah. 

Menurut Nurwahidin, warung syariah harusnya menjadi andalan di Lombok. Pasalnya, Lombok kini dikenal dengan wisata halalnya, yang seluruhnya berbasis syariah. Bahkan, Bank daerahnya pun juga menggunakan model syariah. “Kita sebagai warga sekitar turut menyambut baik hadirnya Warung Wakaf ini. Selain kita berbelanja, kita juga bisa bewakaf,” jelasnya.

Warung wakaf dinilai cukup ideal untuk menunjang kebutuhan wisatawan yang datang. Ini juga disebabkan fasilitas dan jumlah produk yang ditawarkan cukup banyak dengan harga terjangkau.

Sementara itu, Mahli selaku Kepala Dusun Kebun Daya Indah bercerita, memang di Dusun Lelede terkenal dengan galeri gerabahnya. Beberapa turis sering mampir di Dusunini, kemudian naik cidomo (Dokar, Red) berkeliling di beberapa art shop milik warga.

“Di desa sebelah ada namanya Banyumulek, di sana juga ada kerajinan. Tapi sebelum turis datang, mereka mampir lewat sini dulu,” papar Mahli.

Sehingga menurutnya, adanya Warung Wakaf akan lebih menunjang pariwisata di Lelede. Hal tersebut mengingat selama ini belum ada warung yang khas di kampung gerabah ini.

Selain itu, Mahli juga mengapresiasi berdirinya Warung Wakaf di wilayahnya. Ia melihat konsep ini sangat unik. Tak hanya sekadar berjualan dan bagi hasil untuk kebutuhan pondok saja, namun lebih sebagai sarana warganya untuk beribadah.

“Selama ini warga hanya tahu wakaf itu tanah, untuk masjid dan pesantren saja. Tetapi ada juga bentuknya warung yang jauh lebih bermanfaat,” pungkas Mahli. []