Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, PALU - Dua bulan sudah Palu, Sigi, dan Donggala dihantam gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Dari catatan Badan Nasional Penggulangan Bencana, 2.113 orang meninggal dunia. Sedangkan ribuan orang dinyatakan hilang baik karena tsunami yang menyapu pesisir Donggala dan Palu, juga akibat lumpur saat likuefaksi yang terjadi di beberapa titik.

Hingga kini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih melakukan pendampingan, termasuk penyediaan kebutuhan pangan bagi warga terdampak. Dapur Umum ACT terus mengepulkan asap, mengantarkan paket-paket pangan siap santap untuk para pengungsi. Tercatat per Jumat (23/11), 152 Dapur Umum beroperasi di Sulteng.

Salah satunya dapur umum yang ada di Kelurahan Besusu Timur, Kecamatan Palu Timur, Palu. Berdiri di lapangan Jalan MH. Thamrin, Palu, dapur umum ini menyediakan tak kurang dari 400 porsi setiap harinya. Nantinya paket nasi ini dibagikan kepada pengungsi yang juga mendirikan tenda di lapangan tersebut dan warga sekitar yang terdampak gempa dan tsunami.

Darliah (41), relawan masak Dapur Umum ACT, mengatakan, setiap harinya menu makanan berganti. Cara itu dilakukan agar pengungsi tidak bosan. Selain itu, menu sehat seperti sayur dan daging disajikan. Buah sebagai penutup pun diberikan agar kebutuhan gizi pengungsi terjamin. “Kalau masak sampai 400 porsi, siang 200 dan malam 200 juga,” kata Darliah, Kamis (29/11). Ia sebelumnya juga sempat menjadi korban tsunami.

Ratusan orang masih bertahan di tenda

Jumlah pengungsi yang bertahan di lapangan Jalan MH. Thamrin, Palu, mencapai 320 jiwa. Pengungsi ini bukan hanya berasal dari wilayah Palu Timur saja yang mereka menjadi korban tsunami, khususnya di tepian pantai Talise. Akan tetapi, warga Balaroa dan Petobo yang rumahnya hancur akibat likuefaksi juga ikut mendirikan tenda di sini.

'Abdulkhooliq salah satunya. Laki-laki yang rumahnya tak jauh dari Pantai Talise ini satu pekan setelah bencana sudah mendirikan tenda di lapangan tersebut. Saat tsunami, 'Abdulkhooliq sempat tergulung ombak dan tenggelam sampai tak sadarkan diri. Hingga akhirnya ia terdampar di pantai dan dirawat di Rumah Sakit Undata Palu selama sepekan. “Saya tergulung ombak saat berjualan di Pantai Talise, sedangkan rumah saya hancur keadaannya, tak bisa ditempati lagi,” tutur 'Abdulkhooliq, Kamis (29/11).

Duka paling mendalam yang dirasa 'Abdulkhooliq bukan karena dirinya sempat terbawa arus tsunami. Akan tetapi, satu anaknya tersapu tsunami dan sampai saat ini belum ditemukan. “Satu keluarga saya 10 orang di tenda pengungsian sini, tapi satu anak saya belum ditemukan sampai sekarang,” ungkap 'Abdulkhooliq.

Di pengungsian, 10 anggota keluarga 'Abdulkhooliq terpenuhi kebutuhan makan dari dapur umum. Sedangkan sebelum mengungsi di lapangan ini, mereka hanya makan seadanya. “Selama sepekan dari tsunami itu, saya dan keluarga makan seadanya. Kalau ada ikan kaleng ya kami makan, itu pun diberi sama orang,” ceritanya.

 

Sebanyak 152 Dapur Umum ACT tersebar di tiga kabupaten/kota terdampak bencana, yakni Palu, Sigi, dan Donggala. Ratusan Dapur Umum tersebut senantiasa memenuhi kebutuhan pangan puluhan ribu warga terdampak di masa pemulihan ini. []