Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BURU - Pulau Buru merupakan salah satu pulau terbesar di Kepulauan Maluku. Dahulu, pulau ini terkenal sebagai tempat pembuangan tahanan politik di masa Orde Baru. Namun, secara perlahan Buru berubah menjadi daerah penyangga perekonomian Kota Ambon, bahkan Indonesia Timur. Ini tidak lepas dari potensi alam yang dimilki oleh Pulau Buru, mulai dari pantainya yang indah, potensi tambang emas, penghasil minyak kayu putih, sampai pada potensi pertaniannya.

Besarnya produksi padi menjadikan Pulau Buru sebagai penopang bagi Provinsi Maluku, bahkan 60 persen dari total produksi beras Maluku berasal dari Pulau Buru. Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku mencatat, Pulau Buru merupakan kabupaten terbesar yang memproduksi pada pada bulan Januari-Desember 2018 yaitu sebesar 54,42 ribu ton. Lebih besar dibandingkan dua kabupaten lainnya yaitu Maluku Tengah (27,63 ribu ton) dan Seram Bagian Barat (5,42 ribu ton). Produksi ini membuat Pulau Buru surplus padi.

Selain itu, Pulau Buru juga menyimpan potensi besar untuk pertanian Indonesia, khususnya di Kecamatan Waeapo yang memilki potensi yang besar dalam membangun sentra industri pertanian di Provinsi Maluku dengan luas baku lahan sawah 7.058 ha. Besarnya produksi padi serta potensi ke depannya menjadikan Buru sebagai Lumbung Pangan bagi Maluku dan bahkan dicanangkan menjadi Lumbung Pangan Nasional.

Namun, di balik besarnya potensi pertanian yang dimiliki oleh Pulau Buru, wilayah ini masih menyimpan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh para petani di sana. Salah satunya para petani di Desa Weikerta, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru. Masyarakatnya yang sebagaian besar bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani ini masih hidup dengan penghasilan di bawah rata-rata.  

Petani di sana terkadang terkendala masalah hama dan penyakit tanaman yang menyerang lahan mereka. Ini menyebabkan hasil pertanian dan harganya menjadi menurun. Selain itu, mereka juga masih bergantung dengan sistem permodalan yang mengandung nilai riba. Ketika musim panen datang, para petani terjerat dengan tengkulak. Harga gabah mereka ditentukan oleh tengkulak.  

Melihat kondisi inilah, Global Wakaf bergerak dengan menerapkan program unggulan yaitu Lumbung Pangan Wakaf (LPW) di Desa Waekarta, Kabupaten Buru. LPW merupakan program pemberdayaan petani di wilayah yang terpapar kemiskinan.

Danu dari tim Desa Wakaf - Global Wakaf menuturkan, adanya LPW ini diharapkan dapat membantu petani dalam permodalan dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka serta mengankat potensi pertanian pulau ini. “Alhamdulillah, Global Wakaf telah hadir sejak bulan Juli lalu dengan memberdayakan 6 petani di luas lahan wakaf persawahan seluas 6 ha. Kita beli beras petani denga harga terbaik tanpa membebankan petani,” ujarnya.

Ikhtiar untuk memberdayakan petani Pulau Buru juga ditingkatkan dengan adanya pendampingan dari relawan Global Wakaf. Mulai dari pendampingan dalam pengelolaan pertanian, juga pendampingan keagamaan. Diharapkan dengan adanya pendampingan yang intensif akan meningkatkan produktifitas pertanian di Desa ini.

“Semoga dengan program LPW ini tidak hanya mempercepat pengentasan kemiskinan di Pulau Buru, tetapi juga dapat menjadi program yang mengangkat potensi pertanian di pulau ini sehingga Pulau Buru sebagai Lumbung Pangan Nasional dapat diwujudkan,” pungkas Danu. []