Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, YAMAN - Datang, menyapa, dan mendengar langsung kisah-kisah Yaman menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman I - ACT. Kali ini tim sedang berada di Ibb, kota yang letaknya 194 kilometer di Selatan Sana’a.

Rudi dari Tim SOS untuk Yaman I berkesempatan melihat lebih dekat kondisi pengungsi internal Yaman di area kamp yang tersebar di Ibb, tepatnya di kawasan Distrik Al-Dhihar. Berbekal telepon genggam, alat komunikasi satu-satunya yang bisa dibawa, ia mengabarkan betapa kondisi lingkungan kamp di sana tampak sangat memprihatinkan. 

Di Distrik Al-Dhihar, sebagian pengungsi tinggal di bangunan bekas dari pemberian penduduk asli kota Ibb, sedang sebagian lagi lebih memilih tinggal di lahan kosong yang letaknya dekat dengan pusat kota. Walau berbeda lokasi, nasib mereka sama. Menurut Rudi, bangunan rumah mereka berada di lingkungan yang sanitasinya buruk. Bahkan sampah tampak berserakan di mana-mana yang membuat kesan kumuh semakin bertambah. 

“Semua kondisinya sangat memprihatinkan, juga serba terbatas. Kebersihan, sanitasi, ketersediaan air bersih, bahkan listrik dan kelayakan bangunan tidak memadai,” jelas Rudi. 

Koordinator Kamp Hodeidah di Ibb Sultan mengatakan, Distrik Al-Dhihar sendiri memiliki 4 area kamp yakni Al-Hamamy dengan 80 keluarga, Al-Salam dengan 90 keluarga, Al-Shaheed dengan 24 keluarga, dan Wagheer dengan 54 keluarga. 

Berdesakan, tinggal dalam ruang sempit

Tanah yang dipijak Rudi masih sama, penuh debu dan sampah di sekeliling. Mendekat ke bangunan rumah semacam flat atau apartemen yang juga nampak kumuh, ia mendapat kesempatan untuk mengetuk pintunya. Para penghuni di rumah tersebut hidup berdesakan, belasan orang tinggal dalam sebuah ruang sempit. 

Dalam sebuah bangunan yang dianggap mereka selayaknya rumah untuk merebah, setiap bangunan berukuran 4x4 meter didiami oleh lebih kurang 4 keluarga. Mereka berimpit berbagi udara pengap dalam ruang sempit. Sekatnya hanya terbuat dari kain selimut atau seprai kasur. Sementara alas untuk menyandarkan kantuk hanya selembar kasur tipis. 

“Pasti tidak nyaman dan terganggu. Bahkan terkadang mereka sampai memasak dan mencuci pakaian di dalam ruangan. Lingkungan yang sangat tidak kondusif terutama untuk anak-anak,” kata Rudi. 

Rudi pun mengungkapkan, hampir semua pengungsi mengadu perihal yang sama. Mereka sangat membutuhkan bantuan akan pangan, sandang, dan papan. “Sungguh tidak tega melihatnya, mereka benar-benar hidup dengan segala keterbatasan di negaranya sendiri. Listrik terbatas, air bersih pun sulit mereka dapat,” tambahnya. 

Ada kebaikan masyarakat Indonesia untuk mereka

Terhitung dua minggu lebih tim SOS untuk Yaman I - ACT berada di Yaman, telah banyak aksi kemanusiaan yang terealisasi. Di Kota Ibb sendiri, Rudi bersama mitra dan relawan lokal juga telah mendistribusikan sebanyak 200 paket pangan untuk pengungsi Hodeidah di kawasan Distrik Al-Dhihar, Sabtu (1/12). 

Sejak pagi, para pengungsi berkumpul di sebuah lapangan madrasah yang Rudi sewa selama setengah hari. Antre panjang pun terlihat selagi salah seorang mitra mendata setiap kepala keluarga yang bertanggung jawab menerima paket pangan berisi beras, garam, tepung, gula, dan minyak itu.

Raut kebahagiaan tampak di wajah mereka sesaat mendapatkan paket pangan itu. Tak jarang terdengar doa dan harap agar masyarakat Indonesia senantiasa peduli atas cobaan yang mereka alami. “Kami sangat bahagia mendapatkan bantuan ini, kami sangat berterima kasih. Kami mohon jangan lupakan kami,” tutur Sultan, salah seorang warga lokal. 

Pendistribusian paket pangan Sabtu (1/12) sore itu cukup singkat, namun insya Allah,  bantuan tersebut bisa meringankan beban mereka, pengungsi Hodeidah yang sekarang berada di Ibb. []