Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LOMBOK UTARA - Menggunakan topi petani dengan pemotong rumput di tangan dan cangkul di pundak, Suardi bergerak menuju sawahnya. Dari pagi hingga sore dengan tekun ia kelola lahan yang menjadi sumber kehidupannya dan keluarga. Bunyi cangkul berhenti ketika waktu istirahat dan salat datang. Sesekali, ia beristirahat sambil menyeruput kopi hitam menikmati profesi yang sudah ia jalani sejak tahun 1987 ini.

“Banyak orang bilang kalau saya bodoh sekali tidak jadi pegawai. Tapi begitulah Tuhan menggarisbawahi dan menakdirkan saya menjadi seorang petani. Mungkin itu yang lebih berkah bagi saya,” ujar Suardi.  

Bagi Suardi, tidak ada paksaan untuk menjadi petani, justru ia sangat menikmati profesi tersebut sambil terus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah. “Tidur, pola makan kita yang ngatur sendiri. Tidak ada perintah kamu harus ke sana, kamu harus ke sini. Kalau pegawai kan di suruh dan kalau melawan bisa dipecat. Kalau petani, yang bisa memecat itu ya petani itu sendiri. Itulah petani,” lanjutnya.

Namun, selama hampir 32 tahun menjadi petani, ia dan petani di Dusun Kencong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara lainnya masih menyimpan harapan untuk mengolah tanah agar hasil padi menjadi lebih baik lagi. Keinginan untuk belajar cara pengelolaan tanah di wilayah mereka untuk memaksimalkan hasil dan kualitas panen.

“Keinginan itu yang belum kesampaian. Saya dan kelompok tani Dusun Kencong ini juga ingin seperti petani lainnya yang paham mengelola tanah sehingga bisa dapat sekian hektar panen. Bisa hitung berapa hektar kira-kira yang didapat dari tanam di tanah ini. Tapi, sampai detik ini belum dapat,” ucap Suardi.

Selain masalah tersebut, Suardi dan petani Dusun Kencong juga harus berhadapan dengan para tengkulak yang memainkan harga. Harga hasil panen mereka dapat dibeli dengan harga murah bukan harga terbaik. “Terutama yang mau panen terakhir. Kita terpaksa jual dengan harga murah. Kemarin-kemarin sebelum gempa kejadian. Begitulah, sering kita dikecewakan oleh tengkulak ini,” lanjut Suardi.

Ketika harga panen rendah, selanjutnya Suardi kewalahan untuk modal berikutnya dan juga keuangan untuk kebutuhan sehari-hari. Modal inilah yang juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh Suardi dan petani Dusun Kencong lainnya. Mereka hanya pasrah dengan apa yang dihadapi.

“Kalau petani itu kang ngitung, untung-tidak untung-tidak. Kalau rugi itu sudah takdir. Kita pasrah dengan Yang Maha Kuasa. Kalau rezeki alhamdulillah kita syukuri, itu sebuah kenimakmatan. Kalau panen rusak, kita mau nuntut ke mana,” ungkap Suardi.

Beban yang dihadapi oleh Suardi dan petani Kencong semakin bertambah ketika gempa yang mengguncang Lombok beberapa bulan lalu menghancurkan dusun mereka. Dan dusun tersebut menjadi salah satu wilayah terparah yang terdampak. Roda perekonomian pun sempat terhenti sementara. Namun, masyarakat kembali mencoba untuk bangkit dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Musibah yang diberikan itu ujian dari Allah. Makin kuat iman makin kuat ujian yang diberikan Allah. Mari bangkit maju kembali. Mari kembali petani yang baik. Bangun kembali desa kita,” tutur Suardi.

Melihat kondisi kehidupan petani dan masyarakat Dusun Kencong, Tim Global Wakaf langsung menyambangi desa tersebut pada November 2018 lalu, melakukan rembuk warga dan diskusi tentang kebutuhan para petani. Intishor Jundi dari Global Wakaf menjelaskan, rencananya dalam waktu dekat Global Wakaf akan menjalankan Program Lumbung Pangan Wakaf (LPW), program unggulan Global Wakaf yang bertujuan untuk mengangkat perekonomian para petani. Tidak hanya itu, petani juga dibimbing untuk pengolahan dan ilmu pertanian serta urusan keagamaan.

“Ini sebagai bentuk ikhtiar kita untuk membantu pemulihan kehidupan masyarakat terutama petani melalui program wakaf di Lombok. Program ini juga sudah berjalan di Desa Gondang. Global Wakaf sudah berencana membangun huler yang menampung gabah basah para petani, letaknya juga di Desa Gondang. Insya Allah, dengan LPW ini, kehidupan petani menjadi lebih sejahtera,” pungkas Jundi.

Ikhtiar untuk menyejahterakan para petani seperti Suardi akan terus digaungkan oleh Global Wakaf. Sebagai bentuk keseriusan, program LPW ini sudah berjalan tidak hanya di Lombok tetapi juga sudah menjangkau ujung Indonesia di Merauke, Aceh, dan daerah lainnya. Insya Allah jangkauan LPW akan terus diperluas sehingga petani menjadi lebih berdaya di negeri sendiri. []