Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, PANDEGLANG - Debu mengepul dari amplas yang beradu fiber di bengkel perahu milik Ipo Adiansyah. Jumat (1/2) sore itu Telihat laki-laki paruh baya yang sedang mengamplasnya di bengkel yang ada di Jalan Raya Anyer, Desa Bulakan, Cinangka, Kabupaten Serang. Menggunakan kaos berlengan panjang, juga penutup hidung agar debu tak dihirupnya.

Satria (42) namanya. Warga Desa Banjarmasin, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang ini berprofesi sebagai pengrajin perahu. Di bengkel perahu milik Ipo, Satria kini bekerja untuk menyelesaikan perahu pesanan Global Wakaf guna bantuan nelayan terdampak tsunami di Pandeglang, Banten.

Satu pekan sudah Satria bekerja sama dengan Ipo menyelesaikan enam perahu tahap pertama ini. Dengan target maksimal tiga pekan penyelesaian, tanpa melewati detail kerapian serta kualitas, Satria tekun mengerjakannya. 

Tampak lihai tangannya mengamplas. Juga ketika memperhatikan detail bagian perahu yang ia buat. Satria menjadi penanggungjawab atas konstruksi perahu yang dibuat di bengkel milik Ipo. “Perahu ini tergolong ukuran kecil yang saya buat, biasanya saya mengerjakan kapal pesiar,” ungkapnya, Jumat (1/2).

Sejak 2006, Satria sudah membuat perahu. Ia spesialis pembuatan transportasi air ukuran besar, seperti kapal pesiar. Satria juga pernah membuat pesanan kapal amfibi milik Tentara Nasional Indonesia. “Paling berkesan membuat kapal dari TNI itu, kapal amfibi,” jelasnya.

Sedangkan perahu wakaf ini, jelas Satria, merupakan jenis katir. Jongkong (sampan) yang dibuatnya dilengkapi dengan katir. Katir ini sebagai penyeimbang juga pelampung agar perahu tetap stabil saat digunakan. 

Sudah lama Satria membuat kapal, bahkan ia pernah membuat di seluruh pulau besar di Indonesia. Satria juga mengerjakan kapal milik Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) yang digunakan saat pencarian bangkai pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang beberapa bulan lalu.

Ia juga pernah membuat kapal di Aceh dan daerah lain di Indonesia seperti Maluku. Pembuatan kapal ia kerjakan biasanya di tepi pantai atau hulu sungai untuk memudahkan pengiriman kepada pemesan. “Dua bulan saya di Aceh, dan dua pekan setelah saya selesai kerja di sana lalu balik ke Carita ada kabar gempa besar dan tsunami yang mennyapu bersih tempat saya membuat kapal itu,” kenang Satria. 

Dalam menyelesaikan perahu untuk wakaf ini, kesan tersendiri juga dirasakan Satria. Sudah ratusan kapal dengan berbagai ukuran ia buat, namun baru kali ini laki-laki warga Carita ini membuat untuk bantuan. Tanpa mengesampingkan kualitas, Satria gunakan bahan terbaik untuk perahu wakaf.

Pengrajin yang sudah hampir mengelilingi Indonesia untuk membuat kapal tersebut memilih bahan terbaik untuk perahu wakaf. Walau di wilayah Pandeglang tidak ada penjual bahan baku fiber, ia dan timnya bahkan harus sampai Tangerang untuk mendapatkannya demi bisa menggunakan resin terbaik. “Kualitas resin ada tingkatannya, kami gunakan kualitas terbaik,” tegasnya.

Setelah jadi nanti, Global Wakaf akan langsung mengirimkan perahu kepada penerima manfaat. Satria berharap agar pemilik perahu wakaf ini nantinya dapat menjaga dengan baik. “Perahu ini berkualitas, perawatannya juga mudah, semoga bisa mengdatangkan rezeki yang melimpah bagi nelayan untuk perbaikan ekonomi keluarga pascatsunami,” harapnya. []