Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BLORA - Puluhan hektar sawah di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora tak lama lagi akan memasuki masa panen. Panen kali ini akan menjadi panen kedua dalam enam bulan terakhir. Beberapa tahun belakangan, lahan pertanian di Desa Jipang memang semakin produktif. Dalam setahun, petani-petani di desa tersebut mampu memanen hasil tani hingga tiga kali.

Kemandirian pangan menjadi cita-cita desa yang dahulu kerap dilanda kekeringan ini. Sejak Desember lalu, Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) mulai dibangun di atas lahan seluas 5000 m. Di lumbung pangan inilah, tata kelola dan tata niaga hasil panen petani Desa Jipang berjalan.

Wakaf menjadi penggerak rutinitas LPM di Desa Jipang. Pilot project program Wakaf Pangan oleh Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap tersebut memusatkan pengelolaan hasil tani di desa ini. Salah satu tujuannya adalah untuk menyestandardkan harga gabah petani sehingga tak ada petani yang dirugikan ketika panen tiba.

 

“Harga beras kalau di Jakarta kan stabil. Sedangkan harga gabah itu naik turun. Kenapa harga gabah naik turun padahal harga jual beras kan stabil? Permasalahannya ada di jalur distribusi. Inilah yang mau kita stabilkan. Kita akan memotong jalur distribusi ini,” papar Aryanto, salah satu pengelola LPM yang telah lama bergelut dalam bidang pertanian dan penyediaan pangan.

Setiap masa panen, gabah basah akan ditampung di LPM untuk selanjutnya dikeringkan dan digiling dengan peralatan yang telah tersedia. April lalu, Kepala Desa Jipang Ngadi mengungkapkan, kapasitas produksi LPM saat itu sudah bisa menampung 15 ton gabah sehari. Diperkirakan, pada masa panen kedua ini LPM akan memaksimalkan pengeringan gabah sebanyak 18 ton per hari. Sementara itu, penggilingan gabah ditargetkan 15 ton setiap harinya.

“Total seluruhnya bisa tampung beras siap jual sampai 30 ton sehari,” jelas Ngadi.

Pengoptimalan produktivitas para petani Desa Jipang juga didukung oleh penyediaan sarana produksi tani (saprodi). LPM melalui Warung Tani yang dikelolanya berusaha sebisa mungkin agar petani mendapatkan alat tani, pupuk, dan bibit dengan kualitas baik dan harga yang terjangkau. Bahkan, untuk pengadaan bibit, LPM akan memaksimalkan sejumlah sawah wakaf yang dijadikan lahan pembibitan.

 

Wakaf Sawah Dorong Produksi Bibit Unggul

Sebagai pilot project program Wakaf Pangan, LPM juga berencana mengelola lahan pertanian yang diwakafkan untuk proses pembibitan padi. Menurut Aryanto, kegiatan pembibitan sengaja dipilih agar hasil dan manfaat dari pengelolaan lahan wakaf lebih maksimal dan luas.

“Jika sawah wakaf tersebut hanya dikelola untuk tanam padi, penerima manfaatnya tentu hanya warga yang mengonsumsi beras. Tapi kalau sawah itu dikelola untuk pembibitan, penerima manfaatnya jadi ada dua; petani dan warga (konsumen). Jadi, manfaat wakafnya pun lebih luas,” jelas Aryanto.

Ia lantas memberikan contoh sederhana dari penerapan program pembibitan tersebut. Menurut Aryanto, 1 hektar sawah wakaf mampu menghasilkan bibit padi berkualitas sebesar 8 ton per masa panen. Jumlah bibit ini dapat diaplikasikan di atas lahan sawah seluas 10 hektar sehingga mampu memproduksi 80 ton gabah untuk dikonsumsi nantinya. Jika setahun ada 3 kali masa panen, maka jumlah gabah yang dihasilkan bisa mencapai 240 ton.

“Delapan ton bibit yang dihasilkan dari 1 hektar sawah tersebut bisa digunakan untuk 300 petani. Jadi di satu sisi kita memberdayakan petani, di sisi lain kita juga menghasilkan pasokan pangan yang besar untuk warga. Ini kan berarti manfaatnya meluas,” paparnya.

 

Program pembibitan di lahan wakaf pun akan mendorong produksi bibit unggul di Desa Jipang. Selama ini, para petani Jipang biasa membeli bibit padi yang ada di pasaran dengan harga yang cukup mahal. Bibit-bibit tersebut merupakan hasil produksi pusat bibit yang ada di Semarang dan beberapa daerah lainnya di luar Blora.

“Bibit luar” ini tentu akan menghasilkan kualitas padi yang tidak maksimal ketika ditanam di sawah Jipang dan daerah-daerah Blora lainnya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pada unsur hara dan nutrisi tanah di Blora dan wilayah-wilayah lain.

Dengan menanam bibit di tanah sendiri (Blora -red), LPM akan mampu memproduksi dan menyediakan bibit unggul bagi para petani. Harganya pun akan 50% lebih murah daripada harga bibit yang dijual di pasaran. Dengan demikian, petani dapat memanen gabah berkualitas dengan harga produksi yang rendah. Sehingga, masyarakat pun dapat mengonsumsi beras berkualitas dengan harga terjangkau.

“Lebih murah, lebih unggul, dan lebih luas manfaatnya. Insya Allah,” pungkas Aryanto. []