Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, KABUPATEN KARO - Bagi sebagian orang yang menetap jauh dari wilayah Sumatera Utara, sesekali mestinya pernah mendengar atau mengetahui kabar tentang Gunung Sinabung. Tahun 2010 berturut-turut hingga puncaknya tahun 2013 lalu, Sinabung sempat membuat geger seluruh Indonesia. Pasalnya gunung vulkanik purba itu tiba-tiba meletus.

Padahal sudah sejak 400 tahun lalu, Gunung Sinabung dianggap vakum, dapur vulkaniknya padam, tertidur selama berabad-abad. Tanpa diprediksi sama sekali, letusan Sinabung dahsyat membubungkan awan panas setinggi ribuan meter ke langit. Seketika wilayah Berastagi, Kota Medan hingga ke arah Danau Toba pekat diselimuti abu vulkanik tebal.

Bukannya cukup sekali letusan, Sinabung berulah dalam periode yang panjang. Tak cukup sepekan letusan, sebulan, bahkan setahun Sinabung masih saja meletus dan meletus. Periode letusannya malah bisa terjadi dalam rentang waktu harian, mingguan – terkadang sebulan diam – lalu meletus kembali.

Sampai hari ini, Sinabung pun masih meletus. Dapur vulkaniknya belum akan berhenti entah sampai kapan. Bahkan bisa dibilang, Sinabung kini menjadi gunung dengan periode letusan terlama dalam sejarah vulkanologi modern di Indonesia. Terhitung sejak letusan besarnya di Tahun 2013 lalu, sampai kini bulan Juni 2017, empat tahun sudah Sinabung meletus. Ratusan kali erupsi, ratusan kali hujan abu vulkanik. Ratusan kali awan panas menerjang dan membakar habis desa di lereng Sinabung. Sementara itu, ribuan cerita nelangsa pengungsi Sinabung belum akan berakhir mungkin hingga bertahun-tahun ke depan.

Ya, hingga hari ini Sinabung masih meletus. Erupsinya bahkan sudah melekat erat dalam keseharian, menjadi bagian dari kewaspadaan sehari-hari masyarakat Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Hidup dalam erupsi, hidup bersama dengan bencana sepanjang hari.

Ustad Bukhari, empat kali lebaran digulung abu sinabung

Kami, Tim ACTNews akhir Ramadhan lalu datang menilik kembali Sinabung. Dalam bayang-bayang ancaman erupsi Sinabung yang bisa terjadi dalam hitungan sekian menit ke depan, masyarakat Kabupaten Karo masih menyimpan semangat untuk bangkit dan keramahan yang luar biasa.

Seperti kebaikan dan kesalehan yang terpancar jelas dalam wajah Bukhari Ginting, atau acapkali dipanggil masyarakat sekitar dengan panggilan mulia, Ustad Bukhari.

Laki-laki paruh baya ini tinggal menetap sudah 15 tahun di bagian barat daya Gunung Sinabung. Jaraknya dari puncak kawah hanya sekitar 5,7 kilometer, berada di Desa Sukatendel Kecamatan Tiganderket. Sudah tentu ketika Sinabung berulah rumah Ustad Bukhari terkena dampaknya.

Memang bukan awan panas yang menggulung dan mematikan semua yang dilewati dalam hitungan detik. Tapi deras abu vulkanik, hujan lumpur yang turun dari langit, kerikil panas sebesar kelereng sampai sebesar bola sepak yang membikin atap rumah bolong, sampai banjir lahar dingin telah menjadi keseharian Ustad Bukhari.

Rumahnya begitu sederhana, beratap triplek juga jerami, lalu berdinding anyaman bambu. Jangan tanya bagaimana bentuk rumahnya ketika hujan abu vulkanik turun deras dari langit. Jangan tanya ketika batu kerikil panas itu berjatuhan terlontar dari mulut kawah.

“Sudah empat tahun kami melewati Sinabung yang meletus. Sudah empat kali pula rumah kami hancur digulung Sinabung. Atap bolong dan hampir rubuh kena hujan abu,” kata Ustad Bukhari di tengah obrolan jelang berbuka puasa.

Ustad Bukhari melanjutkan ceritanya. Ia mengaku tak bisa tinggalkan rumahnya. Karena rumah sederhana yang Ia bangun di atas tanah ladang dan kandang kambing ini adalah titik mula Ia berdakwah, mengenalkan dan menjaga Islam di lingkungan minoritas Muslim warga lereng Sinabung.

“Kami berada di zona oranye. Mau bagaimana lagi, saya dengan ibu (sembari menunjuk istrinya) tidak ada pilihan untuk pindah. Ini rumah kami, rumah terbaik yang bisa kami miliki. Di sini dakwah saya puluhan tahun lalu bermula. InsyaAllah malaikat melindungi,” ungkapnya.

Sejak pertama kali Sinabung meletus dahsyat tahun 2013 silam, pemerintah Kabupaten Karo memang telah membagi zona-zona pemukiman berdasarkan jarak luncuran material vulkanik dari puncak kawah. Pembagian zona ini menentukan apakah warga di lereng Sinabung harus mengungsi dan pindah untuk selamanya, atau diperbolehkan menetap dan tetap menjaga kewaspadaan jika terjadi erupsi.

Semua pemukiman penduduk di radius terdekat dengan Sinabung, juga di sepanjang aliran luncuran awan panas termasuk dalam zona merah. Semua penduduk di wilayah ini sudah diungsikan dan wilayahnya ditetapkan sebagai zona dilarang dengan alasan apapun.

Sementara rumah Ustad Bukhari termasuk dalam zona oranye, artinya tak ada bahaya awan panas yang bisa membunuh, tapi radius oranye termasuk wilayah terdampak erupsi. Bagi Ustad Bukhari, tidak ada pilihan untuk pindah atau relokasi dengan mendapat rumah baru dari pemerintah.

Ustad Bukhari bertutur, selama empat kali lebaran rumahnya masih bertahan diterjang abu Sinabung. “Terakhir kali seluruh jamaah saya ikut membantu merehab rumah ini setelah hujan abu. Atapnya semua diganti baru, walau memang masih menggunakan triplek dan jerami. Dindingnya juga diperbaiki,” katanya sembari tersenyum mengenang momen itu. 

Di tengah obrolan, Ibu Sidiq istri Ustad Bukhari Ginting ikut bercerita. Dulu, di masa awal-awal berdakwah, Ibu Sidiq menjadi saksi sejarah bahwa rumah gubuk di ladang yang kini mereka tinggali adalah bekas kandang kambing. Titik awal dakwah Ustad Bukhari di Sinabung.

“Jamaah Ustad Bukhari sudah banyak. Tidak mungkin kita tinggal. Kalau yang di tenda pengungsian itu mereka sudah terjamin semua dapat rumah baru. Kalau di sini, kita harus ikhlas rumah kita digulung Sinabung. Ladang kita mati semua, atap sudah ganti empat kali selama empat kali lebaran,” kisahnya.

Tahun ini, tepat sudah empat kali lebaran dilewati Ustad Bukhari, Ibu Sidiq dan anak-anaknya dalam bayang-bayang erupsi Gunung Sinabung. Rumah beratap triplek dan dinding bambu tidak pernah menutup keikhlasan yang mereka jaga sepanjang puluhan tahun berdakwah di Sinabung.

Satu kata jaminan yang selalu diucap Ustad Bukhari ketika Sinabung meletus dan meletus lagi, ”InsyaAllah di tempat ini, perkumpulan malaikat-malaikat menjaga rumah kami.” []