Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, JAKARTA - Kisah ikhtiar komunitas muslim Sevilla dalam membangkitkan kembali peradaban Islam di Andalusia kian akrab di telinga masyarakat Indonesia. Tujuh abad bukanlah waktu yang sebentar, dan selama itu cahaya Islam tak lagi menerangi bumi Andalusia. Hanya hingga akhir era 1970-an lah, Islam kembali ke kota bersejarah itu. Hampir 40 tahun setelahnya, komunitas muslim Sevilla senantiasa berikhtiar membangun sebuah masjid agung sekaligus pusat kebudayaan Islam. Sederhana, apa yang mereka usahakan hanya demi menyiarkan dakwah Islam lebih luas di Sevilla maupun Spanyol.

Kisah ini lantas terdengar oleh beberapa komunitas dan organisasi di Bandung. Mereka adalah Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jawa Barat (Masika ICMI Jabar), Ikatan Alumni ITB Jawa barat (IA ITB Jabar), dan Komunitas Musisi Mengaji (KOMUJI). Aang Ferdhiman selaku Ketua Masika ICMI Jabar mengaku mendengar kisah ikhtiar muslim Sevilla tersebut dari keluarganya.

Aang mengungkapkan, keluarganya sempat mendengar kisah A Tile for Seville di sebuah acara peragaan busana. Dari cerita yang disampaikan ulang oleh mereka, Aang merasa tergugah.

“Saya mulai browsing ATFS dan melihat video-video mereka. Luar biasa sekali perjuangan muslim di Sevilla. Keinginan untuk support mereka pun muncul. Berhubung waktu itu saya dan beberapa teman IA ITB Jabar dan KOMUJI ada rencana ke Hamburg, Jerman, kami langsung menyisipkan agenda kunjungan ke Sevilla juga. Alhamdulillah (Global Wakaf) ACT sebagai mitra resmi ATFS di Indonesia membantu kami untuk bertemu komunitas muslim di sana,” ungkap Aang.

 

Pertengahan Juni lalu, tiga komunitas tersebut memang berkesempatan hadir di acara 33rd Hamburg International Short Film Festival di kota Hamburg, Jerman. Usai menghadiri festival film tersebut, rombongan yang terdiri dari delapan aktivis sosial, sineas, dan musisi asal Bandung ini langsung bertolak ke Sevilla pada Rabu (21/6). Beberapa di antara mereka adalah Aang Ferdhiman, Ridwansyah Yusuf, Angling Sagaran, Alga Indira, dan Deden M. Sahid.

Menginjakkan kaki di bumi Andalusia di pekan terakhir Ramadan meninggalkan kesan mendalam bagi Ridwansyah Yusuf, anggota KOMUJI sekaligus IA ITB Jabar yang ikut dalam rombongan. Hanya sehari, namun interaksi dengan muslim lokal cukup membuatnya merasakan syiar dakwah yang senantiasa digaungkan.

Tutur Ridwansyah, rombongannya tiba di Sevilla sebelum kumandang azan Maghrib. Sambutan hangat mereka terima dari muslim setempat sekaligus pengurus Yayasan Masjid Sevilla (Fundación Mezquita de Sevilla/FMS).

“Kami beruntung sampai di sana sebelum Maghrib. Sempat ikut kajian menjelang Maghrib dan ikut iftar bersama. Maghrib di sana pukul 10 malam dan ibadah salat Isya dan tarawih terus berlanjut hingga pukul satu dini hari. Yang membuat saya terkesan, rutinitas padat tidak menghalangi semangat mereka untuk meraih pahala ibadah selama Ramadan,” ungkap Ridwansyah.

 

Dari obrolannya dengan muslim setempat, ia tahu bagaimana mereka secara bergiliran menyediakan hidangan berbuka dan sahur bagi para jamaah musala. Ridwansyah mengungkapkan, para jamaah pun tak hanya berasal dari kota Sevilla, namun juga desa-desa di sekitarnya.

“Karena di Sevilla hanya ada sekitar 5-7 musala dan letaknya cukup jauh. Harus naik kendaraan ke musala FMS dari tempat mereka (jamaah) bekerja,” jelas Ridwansyah.

Ia melanjutkan, “Dahulu Islam pernah hidup di Sevilla lalu hilang selama ratusan tahun. Dan kini bisa melihat komunitas muslim di sana dengan semangat mengagungkan islam di Sevilla itu luar biasa.”

Kesan yang sama juga dirasakan Aang dan anggota rombongan lainnya. Keinginan untuk mendukung pembangunan masjid dan pusat kebudayaan Islam di Sevilla pun semakin kuat. Menurut Aang, ia dan kawan-kawannya berencana menyumbangkan ide desain masjid yang akan dibangun nantinya. 

“Kami kan sempat berdiskusi dengan Ibrahim Hernandez, Wakil Ketua FMS. darinya kami tahu bahwa belum ada konsep desain pasti untuk Masjid Sevilla ini. Kebetulan saya dan beberapa kolega lainnya beberapa kali membangun infrastruktur publik. Jadi saat itu kami berpikir untuk menyumbang ide untuk preliminary design masjid tersebut. Sehingga, ketika AFTS ini mau kampanye pembangunan masjid, sudah ada tipikal 3D architectural masjidnya,” papar Aang.

 

Ia juga menambahkan, rombongannya sempat merekam secuil kisah kehidupan muslim Sevilla selama kunjungannya di sana. Sekembalinya di Indonesia, mereka berencana menyebarluaskan video tersebut agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui ikhtiar muslim di Sevilla.

“Semoga dengan meluasnya kisah ini di Indonesia, semakin banyak masyarakat kita yang membantu. Tentu kita, bangsa Indonesia, akan sangat bangga jika di masa depan anak-cucu kita bisa melihat sebuah peradaban islam mulai meluas di Sevilla, lewat masjid yang dahulunya turut dibangun oleh generasi pendahulu mereka,” ujarnya.

Pembangunan Masjid dan Pusat Kebudayaan Islam Sevilla sendiri telah lama diikhtiarkan. Di indonesia, pembangunan ini sepenuhnya didukung oleh Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap. []