Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, LEMBATA – Sebagian besar bangunan itu beratap jerami, beralas tanah dengan dinding papan. Mungkin lebih tepat dibilang gubuk kalau melihat bentuk fisiknya. Bahkan, gubuk tersebut sekilas seperti kandang kambing! Namun, ternyata gubuk yang mirip kandang kambing ini menjadi tempat 68 siswa setingkat SD menimba ilmu.  

Ya, gubuk itu adalah sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hikmah. Sekolah yang terletak di Desa Wateng, Kecamatan Omesuri, Kabupaten  Lembata – Nusa Tenggara Timur/NTT ini, merupakan satu-satunya MI di Desa Wateng. Didirikan pada 2010, sekolah gubuk tersebut kini telah berusia tujuh tahun. 

Sekolah MI Al-Hikmah Wateng terdiri dari 4 lokal dengan kondisi bangunan yang seadanya. Sekolah tersebut dibangun melalui swadaya warga desa setempat, di mana sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

Desa Wateng merupakan salah satu kawasan tertinggal di Kabupaten Lembata. Para warganya hidup prasejahtera, mereka bekerja mecari nafkah dengan bertani dan menjadi nelayan yang hanya bisa mencukupi untuk makan sehari-hari saja. Bahkan, kalau tidak mendapatkan ikan, para nelayan harus mencari nafkah dengan cara lain untuk bisa bertahan hidup. Salah satunya dengan menjual kayu bakar. Kondisi ekonomi itulah yang membuat warga desa ini lebih memprioritaskan mencari nafkah hanya untuk bisa bertahan hidup memenuhi kebutuhan sehari-hari saja.

Maka, tak heran kalau tingkat pendidikan di Desa Wateng sangatlah rendah. Sekitar 60 persen warga di sana adalah lulusan SD, 30 persen lulusan SMP, dan hanya 10 persen lulusan SMA.             

Rendahnya pendidikan di desa tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi dan sangat minimnya sarana pendidikan di sana. Belum lagi sarana transportasi yang sulit karena akses jalannya yang rusak.

Oleh karena itu, Program 100 Pulau Tepian Negeri gagasan Aksi Cepat Tanggap berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan di desa ini. Salah satunya adalah dengan membangun ruang kelas baru di Sekolah MI Al-Hikmah Wateng. Bermitra dengan Telkom Indonesia, Tim 100 Pulau Tepian Negeri ACT tengah membangun 2 lokal kelas permanen.

Menurut Dede Abdulrochman selaku Koordinator Program 100 Tepian Negeri, pembangunan ini mulai dilakukan sejak Sabtu (12/8).

“Saat ini proses pembangunan sudah rampung 65 persen, insya Allah pembangunan ini selesai di awal bulan September. Kami minta doanya,”ujarnya.  

Siti Nurhuda (50), Kepala Sekolah MI Al-Hikmah sangat bahagia mengetahui sekolahnya mendapatkan bantuan pembangunan. Sebab, menurutnya selama ini sekolahnya didirikan dengan ala kadarnya. Semuanya adalah swadaya dari warga Desa Wateng. Selama berjalannya sekolah, belum ada perhatian dari pihak manapun, baik itu dari instansi terkait maupun dari yang lainnya.

“Kami sangat senang dan bahagia sekolah kami ini dibangun, terus terang kami tak menyangka sekolah kami bisa dibangun ACT dengan bangunan permanen yang menurut kami sangat layak. Bantuan ini seperti mimipi saja,” ujarnya  serasa tak percaya.  Siti menambahkan, sekolah ini belum difasilitasi ruang guru, MCK dan perspustakaan.

MI Al-Hikmah ini terletak di jalur strategis, yakni di pinggir jalan raya yang menghubungkan ibu kota kecamatan dan jalur laut. Sekolah ini juga terletak antara dua kampung, yakni kampung Aluanang dan kampung Wailawar.

Bantuan pembangunan sekolah ini bagi warga Desa Wateng  bagaikan ‘rezeki jatuh dari langit’. Karena memang selama ini mereka tidak merasakan adanya program bantuan dari siapapun  baik dari Pemerintah maupun dari pihak lain, baru dari Tim 100 Tepian Negeri ACT-lah pertama kali ada program bantuan ini.

“Makanya warga sangat antusias dalam proses pembangunan ini. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu,hingga anak mudanya, semua ikut membantu,”ungkap Dede.

Menurut Dede, bantuan pembangunan ini tidak hanya 2 lokal saja. Pihaknya bersama mitra-mitra ACT lainnya akan terus berikhtiar untuk menggenjot proses pembangunan tersebut.

“Insya Allah, kami akan teruskan proses pembangunan ini karena memang masih banyak fasilitas di sekolah ini yang belum tersedia,” tekadnya.[]