Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BURU – Kabar gembira di momen Idul Adha 1438 Hijriyah datang dari wilayah timur Indonesia, tepatnya Kepulauan Buru. Wilayah yang dulunya merupakan tempat pengasingan tokoh nasional oleh Belanda dan pembuangan tahanan politik di masa Orde Baru, kini menjadi wilayah dengan perputaran roda ekonomi di setiap lini yang sangat cepat.

Kebijakan Pemerintah Orde Baru menjalankan program transmigrasi ke wilayah Indonesia yang masih sepi penduduknya seperti Pulau Buru ini, menjadi program jangka panjang yang saat ini menuai hasil. Kepulauan Buru sejak masa orde baru sampai saat ini menjadi salah satu kawasan swasembada pangan yang mampu menyuplai beras ke sejumlah wilayah di Maluku.

Datangnya orang Jawa, Buton, Bugis dan masyarakat Indonesia lainnya melalui program transmigrasi atau melalui inisiatif sendiri membuat kawasan Kepulauan Buru menjadi hidup. Padahal, dulunya kawasan ini merupakan salah satu kepulauan kosong, hutan belantara, yang seolah tak bertuan di kawasan timur Indonesia.

Di Pulau inilah, tepatnya di Desa Kubalehi, Kecamatan Telungkuba, keluarga almarhum Jaka Bidaulah mewakafkan 10 hektar tanahnya kepada nazir Global Wakaf-ACT untuk kemajuan pendidikan serta pemberdayaan masyarakat setempat.              

“Ini amanah almarhum bapak. Ketika beliau masih hidup berpesan untuk mewakafkan tanahnya bagi kemajuan pendidikan dan ekonomi masyarakat desa di Kabupaten Buru, kami anaknya merasa bertanggung jawab untuk merealisasikan keinginan almarhum. Semoga ini menjadi amal Jariyah bagi almarhum dan keluarga kami,” tutur Rosana (39), anak ke 3 dari pasangan almarhum Jaka Bidaulah dengan Nursiah (74).      

Rosana dan keluarga besarnya mantap mempercayakan Global Wakaf – ACT menjadi nazir wakaf mereka. Ia yakin Global Wakaf mampu mengelola wakaf ini demi kemajuan pendidikan dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Buru. 

“Secara mendalam saya belum sepenuhnya tahu tentang Program Global Wakaf. Namun saya melihat peran ACT ini luar biasa, aktif dalam program kemanusiaan tidak hanya di dalam negeri namun juga di beberapa negara seperti di Palestina, Somalia, dan negara muslim lainnya,” ungkapnya.  

Keluarga almarhum Jaka Bidaulah adalah salah satu keluarga pendatang dari Buton Sulawesi Tenggara yang merantau berdagang ke Maluku. Mereka awalnya berdagang di Kota Ambon, kemudian beberapa tahun kemudian merantau ke Pulau Buru dan menetap di pulau penghasil minyak kayu putih ini.            

“Dulu waktu di Ambon sempat usaha kami bangkrut, maka kami memutuskan untuk pindah ke Kabupaten Buru. Di sinilah kami merintis dari awal lagi usaha kami. Alhamdulillah usaha kami berjalan lancar dan bisa membeli rumah dan sejumlah lahan kosong,” ujar Nursiah, istri almarhum yang mempunyai 9 anak, 32 cucu, dan 2 cicit.

Nurasiah bercerita, sebelumnya saat almarhum masih hidup keluarganya juga telah mewakafkan tanahnya untuk Polres Kabupaten Buru.

Perwakilan Global Wakaf-ACT, Kusmayadi, mengungkapkan, Global Wakaf di timur Indonesia ini mendukung Program 100 Tepian Negeri. Perogram tersebut berupaya meningkatkan kualitas kehidupan warga di pelosok negeri, seperti Kabupaten Buru, baik di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.      

“Sebagai nazir, kami (Global Wakaf) ingin lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat Kabupaten Buru dengan merintis Program Lumbung Ternak Masyarakat di  wilayah timur Indonesia. Lumbung Ternak Masyarakat ini sebagai cikal bakal pendirian pondok pesantren tahfidhzul qur'an. Tujuannya agar anak-anak di Kabupaten Buru tidak perlu keluar pulau untuk menuntut ilmu,” terangnya.  

Global Wakaf merupakan lembaga pengelola aset wakaf dari masyarakat yang dikelola secara profesional, amanah, dan berjangkauan luas. Melalui program-program yang bersifat memberdayakan (produktif), Global Wakaf senantiasa membangun kesejahteraan masyarakat yang berhak menerimanya.

Wakaf merupakan ibadah amaliyah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Ketika sebuah harta benda yang diwakafkan, nilai dari wakafnya adalah tetap. Namun, hasil dari wakaf selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu. Untuk itu diperlukan sebuah sistem pengelolaan secara profesional agar manfaat wakaf terus berlipat ganda.

Semoga semakin banyak lagi pewakif-pewakif seperti keluarga almarhum Jaka Bidaulah di negeri ini. Dengan demikian, energi wakaf akan terus mampu meningkakan sumber daya manusia masyarakat Indonesia, terutama di tepian negeri. Aamiin. []