Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, CHITTAGONG - Jumat mengawali suasana akhir pekan di Bangladesh. Berbeda dengan Indonesia, akhir pekan di Bangladesh jatuh pada Jumat dan Sabtu. Hampir seluruh gedung perkantoran, institusi, maupun sekolah terlihat sepi dari aktivitas kerja maupun belajar dan mengajar. Namun demikian, kondisi serupa tidak nampak pada salah satu sekolah yang berada di sudut Kota Chittagong, kota terbesar kedua di Bangladesh.

Jumat siang (22/12), area Al Hadarah Islamic School yang terletak di Padua Union, Chittagong, riuh dihadiri sejumlah warga dan guru. Mereka memadati salah satu sisi lahan kosong yang terintegrasi dengan bangunan sekolah tersebut. Sebuah banner raksasa bertuliskan Ground Breaking Orphan House, dipasang di tengah lahan kosong tersebut.

Di lahan seluas 3000 meter persegi inilah, Rumah Yatim untuk Rohingya mulai dibangun. Rumah Yatim untuk Rohingya yang digagas oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) merupakan sebuah asrama yang dilengkapi dengan sarana belajar dan mengajar, didedikasikan bagi para yatim Rohingya. Gedung bangunan tersebut rencananya akan dibangun setinggi 5 lantai dan menampung sekitar 1000 anak yatim Rohingya dan anak yatim Bangladesh yang kurang mampu.

Peresmian pembangunan asrama yatim untuk Rohingya ditandai oleh seremoni peletakan batu pertama. Acara tersebut dihadiri oleh Koordinator Tim SOS for Rohingya ACT Rahadiansyah, Direktur Al Hadarah School Muhammad Idris, hingga Anggota Parlemen Chittagong Profesor Dr. Abu Reza Mohammed Nezamuddin.

Rahadiansyah mengatakan, bangunan senilai miliaran rupiah ini merupakan ikhtiar ACT bersama masyarakat Indonesia untuk membangun kembali kehidupan Rohingya, khususnya di bidang pendidikan. Ikhtiar yang sama juga telah dimulai sejak November lalu, yakni pembangunan 1000 unit shelter beserta fasilitas umum yang memadai seperti masjid, toilet, dan madrasah.

Pembangunan asrama yatim sendiri ditopang oleh dana wakaf yang disalurkan oleh para wakif melalui Global Wakaf-ACT. Asrama tersebut akan menjadi rumah sekaligus tempat mengenyam pendidikan bagi ribuan yatim Rohingya. Seperti yang diketahui sebelumnya, PBB mencatat setidaknya ada 14 ribu anak pengungsi yang kehilangan orang tuanya akibat konflik yang mencuat tiga bulan silam.

"Terima kasih masyarakat Indonesia yang sudah memberikan amanahnya melalui Global Wakaf-ACT sehingga bangunan asrama dan sekolah bagi anak-anak yatim Rohingya dan Bangladesh ini bisa mulai direalisasikan," imbuh Rahadiansyah.

Ucapan terima kasih dan senyum penuh harapan juga diungkapkan oleh Direktur Al Hadarah Islamic school, Muhammad Idris. Sekolah yang dikelolanya selama ini telah menampung ratusan anak yatim Rohingya dan Bangladesh. Dengan adanya asrama tambahan bagi mereka, ia begitu bersyukur karena akan lebih banyak lagi anak-anak yatim Rohingya maupun Bangladesh yang mampu mengenyam pendidikan.

"Terima kasih masyarakat Indonesia dan Global Wakaf-ACT atas kepedulian kalian kepada Rohingya yang tak pernah putus. Kami sangat senang bisa turut membantu ikhtiar baik ini," ungkapnya.

Ditemui usai acara tersebut, salah seorang anak yatim yang selama ini mengikuti kegiatan belajar mengajar di Al Hadarah, Rofiq (11), mengungkapkan harapannya bisa memiliki tempat belajar dan asrama yang layak bagi dirinya dan teman-temannya.

Senyum ceria dari bibir mungil bocah yang bercita-cita ingin menjadi dokter itu seolah mewakili senyum ratusan anak yatim Rohingya di tempat tersebut. Senyum yang terukir dari mereka yang nyaris putus harapan sejak terbuang dari tanah airnya, Myanmar. []