Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, ALOR – Lantunan suara anak-anak yang sedang murajaah hafalan Al-Quran terdengar bersahutan di halaman rumah mungil berukuran 5x6 meter, di Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Blok C, Desa Alor Besar, Kabupaten Alor. Ya, suasana Perumahan MBR yang merupakan kawasan warga eks-Timor Leste ini, mengalami perubahan yang sangat signifikan selama 5 tahun terakhir.

Sejak kedatangan ustazah asal Sukabumi, Rismawati, bersama suaminya Arapah, di kampung eks-Timor Leste pada tahun 2013, perubahan itu nampak. Nuansa relijius sangat terlihat, terutama dari anak-anak dusun. Sebagian besar anak-anak perempuan berjilbab, begitu pula-pula ibu-ibunya.

Setiap sore setelah salat Asar dan menjelang salat Isya halaman rumah Ustazah Rismawati dan Arapah begitu riuh dengan suara anak-anak mengaji. Saat Tim 100 Pulau Tepian Negeri-ACT bersilaturahim kesana, pada Senin (1/1), tampak pasangan suami istri ini sedang khusyuk mengajar anak-anak mengaji.

Di sela-sela aktivitas mengajarnya, Arapah bercerita banyak tentang perjuangan dirinya bersama istrinya dalam berdakwah dan merubah kebiasaan buruk masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Arapah menuturkan, ketika pertama kali ia dan istrinya datang ke dusun tersebut, perilaku masyarakat di sana sangatlah miris. Kebiasaan buruk masyarakat eks-Timor Leste dahulu di Timor Leste pun dibawa ke Kabupaten Alor. Misalnya saja, kebiasaan minum minuman beralkohol, berjudi, dan seks bebas (berzinah).

“Pada awal kami ke sini, kondisinya benar-benar miris. Saya dan istri pun pelan-pelan berdakwah dan mengedukasi masyarakat. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, ada perubahan sikap dari masyarakat dusun ini. Mereka menjadi lebih baik, terutama dari anak-anaknya. Dulu anak-anak yang tak berjilbab, sekarang sudah berjilbab, dan diikuti ibunya,” ungkapnya dengan bangga.

Aktivitas mengaji pun saat itu sempat terhenti sejenak karena ada simbolis penyerahan bantuan laptop dan proyektor dari Tim 100 Pulau Tepian Negeri-ACT untuk TPA yang dikelola Rismawati dan Arapah ini. Rismawati juga sangat bahagia Tim 100 Pulau Tepian Negeri-ACT untuk kesekian kalinya memberikan bantuan. 

 

“Alhamdulilah, untuk kesekian kalinya kembali ACT memberikan bantuan. Bantuan laptop dan LCD ini sangat berguna bagi kami. Saya salut dengan  Tim ACT ini, yang begitu sangat peduli  terhadap perjuangan kami disini,” ujarnya penuh haru.

Rismawati menuturkan, sebelumya di Perumahan MBR Dusun Ulimonong, Tim 100 Pulau Tepian Negeri-ACT telah membangun sumur bor bersama perangkat sanitasi airnya, yaitu 3 lokal MCK, satu tempat cuci baju dan toren air. Wilayah ini juga merupakan salah satu wilayah distribusi daging kurban program Global Qurban. Selain itu, distribusi paket pangan dari Global Wakaf dilakukan juga di sini. ACT juga pernah mendistribusikan bantuan pakaian muslim dan pakaian ibadah (seperti mukena, kerudung, sarung dan Al-Quran).  

 

Alhamdulillah, kami sering diperhatikan terus oleh Tim ACT dan mitra-mitranya. Perhatian bantuan dari mereka sering kali diterima para siswa, Ibu-ibu majelis taklim dan masyarakat di sini,” ungkap Arapah penuh rasa syukur.

Berawal dari keprihatinan

Sebenarnya Rismawati dan Arapah mulai berjuang berdakwah dan mengajar di Kabupaten Alor sejak tahun 2010. Keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam yang minoritas di Alor membuatnya kukuh ingin membuka sekolah agama di sana. Walau sebenarnya, mereka harus berjuang dengan kerasnya hidup yang jauh dari kata layak.

Sepasang suami istri ini merupakan sarjana lulusan Perguruan tinggi di Jawa Barat. Rismawati berasal dari Sukabumi dan merupakan seorang sarjana tamatan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Barakah, Sukabumi. Sedangkan, Arapah yang asli Alor adalah seorang sarjana hukum, lulusan Universitas Galuh – Ciamis.     

 

Sebelum Rismawati mendirikan PAUD dan TPA An Nur Dunia Anak di rumahnya di Ulimonong pada 2013, ia juga telah mendirikan PAUD dan TPA Harapan Bunda di Wetabua (2011). Kemudian, di tahun 2012 mendirikan PAUD dan TPA Nasty di Dulolong.

Tidak hanya berhenti di PAUD dan TPA saja, tetapi Risma juga merambah dakwahnya ke kalangan majelis taklim ibu-ibu. Umumnya, mereka adalah orang tua wali murid dari anak-anak yang ia didik di PAUD dan TPA.

Risma mengungkapkan, apa yang ia jalani bersama suaminya di Alor ini, jauh dari tujuan mencari materi. PAUD dan majelis taklim sama sekali bukanlah ladang untuk meraih keuntungan duniawi. Semuanya hanya semata-mata untuk dakwah.

"Secara materi tidak ada yang bisa didapatkan. Ini semua berangkat dari keprihatinan dengan anak-anak di sini. Hati saya serasa teriris-iris melihat mereka yang tidak mendapatkan pendidikan Islam yang semestinya," ujarnya.

Kedua anaknya, yang dititipkan bersama orang tuanya di Sukabumi, menjadi tantangan dan cobaan Riswawati dan Arapah. Kerinduan kepada anaknya ia jadikan sebagai pemicu semangat untuk mengajar anak-anak Muslim di Alor.

Baginya, jika ia menjaga akidah anak-anak Alor dengan ajaran Islam yang benar, anak-anaknya di kampung halaman juga akan dijaga Allah. "Jika ada pulsa, saya suka telepon mereka (anak-anak). Tapi, memang tidak setiap hari," pungkas Risma. []