Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, JAKARTA - Komitmen Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan umat melalui peran wakaf terus diwujudkan. Perwujudan komitmen tersebut terangkum dalam peluncuran awal Gerakan Nasional Berwakaf untuk Kesejahteraan dan Kemartabatan yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (25/1). Ikhtiar ini diinisiasi oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) bersama dengan Global Wakaf Foundation dan beberapa nazir (pengelola) wakaf yang tergabung dalam Forum Wakaf Produktif (FWP).

Melalui gerakan ini, BWI dan FWP mengajak semua pihak untuk menyadari pentingnya peran wakaf dalam empat hal. Mohammad Nuh selaku Ketua Badan Pelaksana BWI menyampaikan, peran wakaf yang pertama adalah sebagai aktivitas transenden. Dengan kata lain, wakaf dilakukan dalam rangka ibadah demi mencapai rida ilahi. 

Namun demikian, peran wakaf tidak berhenti sampai di situ. Jika nazir bisa mengelola wakaf dengan baik, wakaf mampu menjadi jalan untuk kesejahteraan umat.  

“Wakaf itu kan tentang menahan pokok aset wakaf, lalu dikelola secara optimal hingga menghasilkan keuntungan. Keuntungan ini lantas diberikan kepada para mauquf alaih melalui program-program kesejahteraan masyarakat,” terang Nuh.

 

Kesejahteraan masyarakat yang berhasil diraih dari optimalisasi pengelolaan wakaf diyakini mampu menaikkan martabat umat. Wakaf dapat menggerakkan energi dan membangun kemandirian umat hingga menjadikan mereka pihak tangan di atas.

Sejalan dengan komitmen bersama tersebut, Global Wakaf Foundation senantiasa gencar mengedukasi masyarakat Indonesia tentang keutamaan wakaf. Sejumlah langkah strategis pun dilakukan untuk meluaskan manfaat wakaf kepada sebanyak-banyaknya umat. Beberapa di antaranya adalah digulirkannya program-program wakaf berbasis ekonomi rakyat.

Kehadiran sejumlah program wakaf tersebut dilatarbelakangi atas kesadaran bagaimana wakaf tidak bisa dipisahkan dari perputaran ekonomi yang produktif. Hal ini diyakini Presiden Global Wakaf Foundation N. Imam Akbari, yang juga menyoroti esensi peran wakaf sebagai instrumen sarat solusi bagi problematika umat. 

“Masalah kesejahteraan itu berakar pada ekonomi. Dengan ekonomi yang baik, masyarakat mampu memiliki akses luas terhadap pendidikan, kesehatan, dan bidang kehidupan lainnya. Sehingga, adanya akses-akses vital ini mampu meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka,” papar Imam.

 

Selama hampir tiga tahun perjalanannya, program wakaf berbasis perekonomian rakyat yang diinisiasi oleh Global Wakaf telah membangkitkan produktivitas masyarakat Indonesia. Melalui program Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) dan Lumbung Ternak Masyarakat (LTM), kualitas kehidupan masyarakat desa tumbuh membaik.

Wakaf memberdayakan, wakaf menyejahterakan. Itulah yang terlontar dari mulut warga desa di mana program-program percontohan Global Wakaf diimplementasikan. Para peternak binaan LTM misalnya, yang merasakan perubahan baik tersebut. Selama kurun waktu kurang dari tiga tahun bergabung bersama LTM, keadaan finansial mereka membaik. Bahkan, tak jarang di antara mereka yang mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

Sementara itu, para petani binaan LPM tidak perlu lagi menghadapi kendala dalam pemasaran hasil tani. Melalui LPM, gabah mereka tidak lagi dibeli dengan harga rendah seperti yang selama ini mereka alami dengan para tengkulak. Masa panen pun semakin stabil setiap tahunnya (tiga kali setahun) dengan dukungan sumur pertanian dari hasil wakaf. 

 

Keberadaan program-program wakaf tersebut dilengkapi pula dengan program Desa Wakaf, desa yang secara fungsional berjalan dengan pendayagunaan aset wakaf. Dengan demikian, wakaf akan terus berputar secara produktif dan berimbas pada kemandirian desa.

“Kami sadar bahwa wakaf menjadi bentuk filantropi terbaik dalam Islam dengan multiplier effect yang kuat. Oleh karena itu, kami berikhtiar sebaik mungkin agar manfaat wakaf menyebar seluas-luasnya. Dari sinilah, kesejahteraan dan kemartabatan umat dapat dicapai,” pungkas Imam. []