Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, BLORA - Alam selalu menyajikan hamparan potensi kekayaan yang dapat diolah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kekayaan di dalamnya, manusia sudah terpatri untuk selalu hidup berdampingan dengan alam. Pemanfaatan limpahan sumber daya alam yang terpendam dan tersebar di bumi nusantara cukup beragam. Ada yang memanfaatkan dari kekayaan tanah, laut, hingga sungai.

Melihat aktivitas di sungai misalnya, kita bisa menyaksikan bagaimana para nelayan mengkreasikan upaya untuk mendapatkan ikan. Satu keyakinan menetap di hati mereka, bahwa “jembatan rezeki” Ilahi ini akan selalu ada hingga akhir zaman. Ikan akan selalu ada untuk mereka tangkap, pancing, hingga jaring.

Namun, ikhtiar para nelayan tersebut bukan berarti tidak memiliki risiko. Ancaman tenggelam hingga hanyut selalu membayangi mereka, khususnya nelayan tradisional. Di Desa Jipang, Kabupaten Blora, ancaman ini nyata mewarnai aktivitas nelayan setiap harinya.

 

Menyusuri ruas sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa, para nelayan tradisional di Desa Jipang nampak mengapung siaga di tengah sungai. Jangan bayangkan bahwa mereka mengapung di atas perahu nelayan dengan peralatan memancing lengkap. Mereka mengapung dengan bantuan ban dalam bekas. Tanpa berbalut kaus, tubuh mereka mengarungi sungai dalam beberapa jam. Jaring sederhana mereka sebar, sambil memicingkan mata manakala jaring tersebut berhasil menangkap ikan dalam jumlah besar.

Bukan sekali atau dua kali suhu dingin air sungai terasa menjalar di seluruh tubuh. Setiap hari, sensasi menggigil sudah pasti mereka rasakan. Jika sudah berjam-jam, rasa anyep itu merasuk hingga rongga dada. 

Untuk jangka panjang, hal itu tentu berakibat buruk bagi kesehatan mereka. Bahkan, tak jarang nelayan tradisional di Desa Jipang adalah mereka yang sudah memasuki usia senja, yang seharusnya sudah bisa lebih santai dalam menjalani hidup. Akan tetapi, mereka masih berjuang untuk menyambung hidup. Belum lagi ancaman tenggelam bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan berenang.

 

“Kami biasanya mulai ke sungai ketika sore sampai subuh. Ikan yang kami dapat tidak sebanyak nelayan laut. Sebagian tangkapan ikan dijual ke pasar, sebagiannya lagi untuk konsumsi harian,” ungkap salah satu nelayan tradisional di Desa Jipang. 

Para nelayan tradisional harus rela menempuh perjalanan jauh menggunakan transportasi umum untuk mencari wilayah sungai Bengawan Solo dengan populasi ikan terbanyak. Sesampainya di lokasi, ban dalam bekas yang diandalkan sebagai “perahu” harus mereka tiup dengan mulut mereka, bukan dengan pompa. Tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka untuk menyisihkan dana agar bisa membeli pompa. Dana yang ada lebih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

Potret nelayan tradisional Desa Jipang lantas menjadi perhatian utama Global Wakaf - Aksi Cepat Tanggap (ACT). Global Wakaf berikhtiar untuk mengangkat taraf hidup para nelayan dengan memberikan aset wakaf berupa perahu yang terbuat dari kayu jati. 

Saat ini, lima kelompok nelayan di Desa Jipang telah merasakan manfaat dari aset wakaf perahu tersebut. Hasil tangkapan kian bagus, yang berdampak pada perubahan ekonomi di kalangan mereka. Yang tadinya hanya menjual ikan dan dinikmati sendiri, kini hasil penjualannya sudah bisa disisihkan untuk ditabung. Ikhtiar ini sebagai jalan memenuhi harapan mereka di masa depan.

Rasa syukur terpancar dari raut wajah legam mereka. Suyitno, salah satu nelayan tradisional di Desa Jipang, mengungkapkan terima kasihnya atas bantuan perahu wakaf yang diterima. Menurutnya, dengan perahu kayu itu, ia dan nelayan lainnya bisa memperoleh hasil tangkapan ikan yang lebih banyak.

 

“Kami juga jadi lebih semangat karena sudah tidak perlu lagi naik angkutan umum untuk ke lokasi (sungai) yang banyak ikannya. Jadi sudah bisa ditempuh dengan perahu. Semoga wakaf perahu yang diusung dari Program Desa Wakaf bisa semakin luas manfaatnya,” kata Suyitno.

Program Desa Wakaf merupakan program membangun kesejahteraan umum bagi semua masyarakat desa berbasis aset wakaf. Program yang baru diisiasi oleh Global Wakaf Foundation ini insya Allah akan diluncurkan pada pekan ketiga Februari.

Sementara itu, aset wakaf yang ada pada desa-desa di bawah naungan Program Desa Wakaf akan dikelola oleh Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa (LKWD). Aset wakaf tersebut bisa berupa perahu, lahan pertanian, hingga ternak. Pengelolaan aset-aset wakaf ini akan senantiasa dioptimalkan sehingga hasil yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk pembangunan dan kesejahteraan desa. []