Call Center
+62 21 2940 6565

ACTNews, ALOR – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kualitas pendidikan yang rendah dan tingkat kemiskinan tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2010 sampai 2016, NTT selalu menempati peringkat di atas 30 besar dari 34 provinsi di Indonesia. Salah satu wilayah tertinggal dalam bidang pendidikan di NTT adalah Pulau Alor.  

Berikhtiar untuk membantu mengejar ketertinggalan tersebut, ACT menggelar Program 100 Pulau Tepian Negeri. Salah satu tujuan utamanya  adalah untuk mendongkrak kualitas pendidikan di timur Indonesia. Berbagai program pendidikan pun digelar di provinsi ini, seperti pembangunan lokal sekolah, bantuan paket pendidikan, beasiswa, dan beaguru.

Beragam manfaat nyata dirasakan masyarakat di tepian negeri. Selain terfasilitasinya kebutuhan akan pendidikan, mereka juga semakin sadar atas pentingya sebuah pendidikan. Kesadaran untuk memajukan pendidikan di kampung halaman mereka muncul. Sebagian dari mereka mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mendidik anak-anak di desa maupun dusun mereka. Sebagian lain rela mengorbankan harta bendanya demi bisa menghadirkan sekolah yang bermutu, termasuk mewakafkan tanahnya untuk pendidikan.

Seperti yang dilakukan oleh Sahban Musa, seorang petani dari Desa Baolang, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor. Ia mewakafkan tanahnya seluas 8.223 meter persegi kepada Global Wakaf-ACT. Sahban Musa melakukan ijab kabul wakaf di tanah yang ia wakafkan. Ijab kabul tersebut dibarengi dengan penyerahan sertifikat tanah miliknya kepada Global Wakaf, Jumat (2/2). Tanah seluas hampir satu hektar itu ia wakafkan untuk kemajuan pendidikan di Desa Baolang.         

“Motif saya mewakafkan tanah ini melalui Global Wakaf-ACT hanya satu. Saya ingin agar di desa kami ini pedidikannya maju. Saya ingin GW-ACT membangun Madrasah Aliyah Swasta (MAS). Sebelumnya, saya sudah melihat aksi ACT yang membangun Madrasah Tsanawiyah (MTs) di desa kami. Kami ingin anak-anak desa ini terangkat derajatnya dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya. Tidak hanya sampai tingkat Aliyah saja, tapi sampai perguruan tinggi,” jelas Sahban Musa yang juga merupakan salah satu wali murid MTs Baolang, dengan penuh optimis.     

Di desa inilah, tiga tahun lalu (2015) ACT membangun sekolah MTs Baolang, yang merupakan satu-satunya sekolah setingkat SMP di desanya. Sekolah ini berdiri di wilayah terpencil dan sangat tertinggal. Jarak tempuh dari Desa Baolang ke Kecamatan Pantar adalah 12 km dan harus dilalui dengan berjalan kaki. Sekolah tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 6.900 meter persegi dari warga.

Sebelah barat sekolah merupakan tebing/pantai, sebelah utara berbatasan dengan perkampungan masyarakat, dan sebelah selatan berbatasan perbukitan. Di desa ini, ACT dan mitranya membangun sekolah, yang memang sangat dibutuhkan.

Pembangunan sekolah yang dilakukan ACT tersebut sangat disyukuri warga Baolang karena pada saat itu belum ada sekolah tingkat SMP. Anak-anak Desa Baolang yang lulus SD harus melanjutkan sekolah yang terletak di Kecamatan Pantar. Sementara itu, akses jalan ke lokasi tersebut cukup sulit. Selain karena jaraknya yang jauh, kondisi jalan pun buruk.

“Warga Desa Baolang sangat mensyukuri pembangunan sekolah MTs Baolang. Sebagai bentuk apresiasi, kampung tempat sekolah itu berdiri diberi nama Kampung ACT. Akses jalan menuju sekolah tersebut pun diberi nama Jalan Dede Abdulrochman, nama salah satu anggota tim ACT,” ungkap Arapah, relawan ACT Alor, saat berbicang via telpon, Selasa (6/2).             

Menurut Arapah, salah seorang relawan ACT, pembangunan sekolah swasta berbasis Islam belum menjadi perhatian utama Pulau Alor. Hal ini menyebabkan tertinggalnya kondisi sekolah berbasis Islam di wilayah tersebut. Sekolah swasta berbasis Islam di Alor didirikan dan dibangun dengan swadaya masyarakat.   

Maka, ketika Tim 100 Pulau Tepian Negeri datang dan membantu pembangunan sekolah serta mendistribusikan bantuan pendidikan, kegembiraan pun ditunjukkan oleh masyarakat kampung, termasuk para siswa dan gurunya.

Saat ini Sahban bersama warga Baolang tengah memproses pengurusan pendirian MAS Baolang ke sejumlah pihak terkait baik ke Departemen Agama setempat maupun ke pihak notaris. Hal ini agar proses legalisasi bisa selesai tahun ini. Sehingga, di tahun ajaran baru ini, MAS Baolang sudah bisa berjalan.      

“Kami sangat berharap ACT bisa membangun ruang sekolah MAS Baolang, sehingga siswa kelas 3 MTs Baolang yang lulus nanti bisa langsung meneruskan sekolahnya di MAS Baolang. Insya Allah, kami optimis bisa berjalan tahun ajaran baru ini, meskipun harus menumpang dulu di rumah warga,” tegasnya penuh optimis.

Bahkan Sahban mengungkapkan, saat ini adiknya bersama warga Baolang tengah mempersiapkan untuk kembali mewakafkan tanahnya. Tanah yang akan diwakafkan tersebut tidak hanya untuk program pendidikan di desanya, namun juga untuk program pemberdayaan masyarakat lainnya.   

“Warga Desa Baolang saat ini tengah mempersiapkan lahannya sekitar 5 hektar untuk kembali diwakafkan melalui Global Wakaf-ACT. Tidak hanya untuk kepentingan dunia pendidikan, tapi juga untuk kemashlahatan warga lainnya melalui program-program pemberdayaan. Program LTM dan LPM misalnya. Pokoknya masyarakat Baolang siap sekolahnya dijadikan binaan Global Wakaf maupun ACT, begitu juga desanya secara keseluruhan,” pungkas Arapah. []